Saat aku menulis ini, rokok di tanganku sudah setengah doyong jadi puntung. Telunjuk rajin jentik ini pucat, pias mengurai. Seperti ujarmu, semoga sepenting itulah si rune_green ini..
Seawalnya, aku ingin ingatkan kalau nama ini bukan anak kandungku. Jadi aku tak pasti bagaimana silsilah pusarnya, tak pasti pula bagaimana ia diputuskan lahir. Bagaimana sel telur hawa berguncang hebat saat sel sperma adamnya memaksa mesti dan menjadi. Bahkan aku tak pasti, makhluk apakah nama ini. Yang pasti, aku sayang dia..
Tapi pertanyaanmu itu adalah pertanyaanku juga, Bla. Pertanyaan untuk seseorang yang berlabuh untuk pulang, yang dulu menggendong nama ini sambil bernyanyi ‘timang-timang, anakku sayang’. Ah, matanya lucu saat begini..
“Nama yang itu sudah terlewat sekarat, Adik. Sudah mati, menanah dia. Bukankah masih nyata tanda tanganmu di selingkar lehernya? Ini kubawakan engkau satu lagi. Hanya biarkan aku turut menjaga. Saat engkau menyanding kanannya, aku mengasuh kirinya. Saat engkau ciumi kirinya, aku peluk kanannya. Janganlah kau matikan lagi. Dia mampu mati sendiri” ~2006~
Dan kini seseorang itu telah berlayar untuk pulang, Bla. Tinggallah aku dengan anakku yang ini. Di mana kanan kirinya bergelayut, meninggalkan tanda tangan di sekujur tubuh..
**
Bla..
Aku sudah nyalakan lagi rokok setelah yang tadi mati sia-sia di duapertiga asap. Semoga amal ibadahnya diterima di langit sana..
1/
Sejauh yang mampu aku temukan, rune adalah aksara kuno yang ditatah di atas batu. Macam aksara sansekerta yang terpatri di atas tebaran banyak candi negeri ini. Yang mana rune yang green itu, aku tak tahu..
Tapi, rune yang green yang hijau itu juga kutemui bergandeng dengan zodiak, Bla. Hijau, warna Gemini. Padahal, aku kan Pisces, mestinya blue yang biru lah..
“Duh, Nak. Apakah ada yang terlanjur salah menitip? Atau salah mengingat? Katanya engkau ini untukku. Lalu, di bagian mana tubuhmu dia taruh amanat itu?”