Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Selamat Datang Pengunjung
Ayo, gabung sekarang
Log masuk jika sudah mendaftar
Penulisan > Novel > Sangrail
Next Chapter Next Chapter

0
0 Penilai
Chapter - 1
Dihantar: 29/06/2009 pukul 10:04:36 AM | 1424 Bacaan
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!

          Mum membangunkanku dengan kasar pada minggu pagi yang indah di musim gugur yang dingin, wajahnya berseri-seri. Dia mengguncang-guncangkan tubuhku tanpa ampun dan ketika aku menunjukkan penolakan yang keras terhadap usahanya, Mum menarik selimutku dan berteriak keras.

           “Oh, ayolah! Berapa lama lagi aku harus berkutat untuk membangunkanmu? Pemalas!”

           “Mum,” kataku parau, menyipitkan mata, silau menatap cercah matahari yang pelan-pelan menerangi seluruh kamarku. “C'est dimanche*.”

           “Untunglah kau sadar ini hari minggu,” tukas Mum sinis.

            Aku mengerang pelan tepat saat udara dingin kamarku menyayat kulitku. Kepalaku ringan, lemas dan ada perasaan menyebalkan berkaitan dengan kehadiran Mum. Perlu beberapa detik lamanya untuk berhasil membuka mata, mengumpulkan kesadaran dengan menatap seluruh penjuru kamarku yang berantakan—dan sama sekali tidak ada gunanya—kemudian akhirnya melihat Mum berdiri berkacak pinggang di pinggir tempat tidurku.

           Aktivitas pagiku di hari minggu selalu berjalan selaras, statis. Jam delapan tepat dan Mum sudah berada di samping tempat tidur, menatapku dengan tatapan mencela. Hanya saja, tatapan Mum sedikit banyak membagi sebuah pesan tersirat. Seperti ‘ini-memang-hari-minggu-tapi-jangan-pernah-bermalas-malasan-di-hari-mingguku’.

          Jangan salahkan aku. Semalaman aku harus menulis ulang esai tugas Bahasa Inggrisku dan akhirnya ketiduran setelah berkutat dengan kata-kata Shakespeare berdering dalam kepalaku, menggumamkan kata-kata Hamlet yang perkasa. Aku bahkan nyaris melupakan hari apa ini.

         “Ma tête est blessé**” keluhku.

         Mum menggelengkan kepalanya, bergerak membuka tirai lebar-lebar dan membuat mataku terpejam otomatis ketika cahaya membutakan matahari masuk ke dalam kamar. “Salahkan dirimu sendiri yang tidak pernah mendengarkan ucapanku. Tidur tepat waktu... apa sih susahnya?”

         “Oh, Mum...” aku mengerang, membanting kepala di tumpukan bantal. “Haruskah aku mengawali Minggu pagiku dengan mendengar ocehan mengenai hal itu, lagi?”

         “Tidak harus, kalau kau mau mendengarkan sedikit saja perkataanku. Karena kalau kau mau sedikit saja lebih memperhatikan sesuatu, aku sudah susah-susah menyiapkan seluruh makan pagi spesial yang menghabiskan tiga jam waktuku di dapur untuk memasak. Dan coba tebak apa yang kudapatkan? Putriku masih tidur, padahal Café Au Lait*** bikinanku sudah mendingin

             “Coba katakan padaku, Elle Sayang, berapa lama lagi kau akan menghabiskan jam kedelapan di hari ulang tahunmu yang ketujuh belas di tempat tidur?” tanya Mum mengakhiri kata-kata sindirannya dengan berkacak pinggang, memberikan efek dramatis setelah sebelumnya berjalan mondar-mandir penuh emosi.

              Rasa kantukku seketika lenyap. Aku bangun dan memandang kalender saku di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Tanggal 5 September. Lalu sejumput rasa bersalah memecut kulit pucatku. Aku benar-benar melupakannya, padahal aku tidur tidak kurang dari jam empat pagi. Wow, aku berumur tujuh belas.

             Aku tersenyum kecil pada tanggal kalender itu, lalu dengan cepat bangkit berdiri menghampiri Mum. Memberinya pelukan sebagai tanda maafku. “Sori, Mum. Aku tidak bermaksud mengabaikan sarapan spesial buatanmu.”

             Mum mencibir, tapi kemudian tertawa setelahnya. “Selamat ulang tahun, Angelle-ku sayang,” bisiknya penuh kelembutan, membelai rambutku.

              “Merci****.”

              Pantulan sosokku yang berantakan tampak di mata kehijauan Mum, wanita yang membesarkanku seorang diri semenjak umurnya masih belia. Dia tidak pernah menikah. Aku lahir dari hubungannya dengan salah satu teman semasa SMU-nya, membuat status ‘anak haram’ menjadi milikku. Aku tidak pernah bersedih dengan status itu, justru aku menikmatinya.

              Boleh dibilang otakku sinting. Awalnya aku memang berharap mereka berdua bersatu. Tapi cukup dengan beberapa kali pertemuan bertiga antara aku, Mum dan Francis—ayahku, keputusan yang paling tepat muncul begitu saja dihadapanku; kami tidak bisa menjadi keluarga. Francis merupakan pengacara terbaik di kota, penuh kharisma, cukup rupawan dan merupakan alasan masuk akal mengapa mataku berwarna biru safir rupanya telah menikah cukup lama. Keluarga yang bahagia, terdiri dari dia, istrinya yang bernama Adrienne dan dua bocah lelaki.

               Bukannya aku tidak berharap Francis tiba-tiba memutuskan bercerai dengan Adrienne dan mencoba membuat keluarga bahagia bersama Mum dan aku, tapi ada bagian-bagian tertentu yang bahkan tidak bisa ditemukan dalam hubungan kedua orangtua biologisku. Mereka hanya bersahabat, tidak lebih. Tidak ada kata cinta, tidak ada kesinambungan emosi maupun fisik. Rupanya hanya kehadiranku yang membuat kedua orang itu berhubungan.

               Ajaib. Membuat frustasi. Gila. Tapi itulah hidupku. Aku tidak mau ambil pusing. Aku tidak mau menjadi gila karena memikirkannya. Toh aku memiliki tanggung jawab yang sama seperti remaja seusiaku. Aku pergi ke sekolah, mengerjakan tugas, terkadang membantu Mum di Cafè miliknya. Tidak ada yang berubah. Dan ini akan bertambah asik lagi karena aku sekarang sudah tujuh belas tahun.

              “Ponselmu bergetar, Elle,” kata Mum.

               Keningku mengerut sejenak sembari berjalan mendekati meja tempat ponselku berada. Rupanya hanya sebuah pesan. Singkat, tapi mampu membuatku tersenyum dengan lebar.

              “Oh, Seth Coltner?” Kepala Mum agak miring ke bahuku saat berusaha membaca pesan pada layar ponsel, kemudian menatap wajahku agak sarkas. “Kau masih berkencan dengannya?”

              “Well, yeah...” aku mengangguk. “Ada yang salah?”

               Mum memutar bola matanya. “Entah apa yang kau lihat dari dia.”

              “Seth baik.” Dan tampan.

              “Lebih tua darimu,” tukasnya tajam.

              “Hanya beberapa tahun.”

              Mum menghela napas. “Tidak ada namanya hanya beberapa tahun. Kalau disejajarkan, kalian berdua tampak seperti semacam.... boss besar dengan simpanannya.”

             “Mum,” aku mengerang tajam. Dia selalu berkomentar seperti itu. Dia selalu tidak pernah menyukai pacarku. Menyebalkan. “Aku tidak pernah berhubunga sex dengannya atau bagaimana. Jangan dengan mudahnya kau mengataiku simpanan. Itu sama saja menyebutku sebagai pelacur.”

             “Aku hanya ingin kau berhati-hati,” katanya sakit hati. “Tentu saja aku tidak akan memanggil anakku sendiri sebagai pelacur.”

              Aku benci argumen ini. Sudah sekitar setengah tahun aku berkencan dengan Seth Coltner, pelukis yang kukenal ketika aku tanpa sengaja melihat pameran lukisannya di pameran kesenian kota. Dia tampan, baik dan mempesona. Tidak secara perkataan, tapi lebih pada tatapan matanya yang dalam.

              Dan Mum tidak menyukainya. Dipikirnya Seth sama seperti beberapa petualang yang pernah singgah dalam kehidupan Mum. Aku sampai bosan mengatakan bahwa Seth berbeda. Aku mempunyai firasat sebenarnya Mum agak iri padaku karena mendapatkan Seth. Memang salah, tapi semua pemikiran tidak beralasannya membuat firasatku menguat.

           “Dia baik,” aku mengulang dengan nada final.

           “Terserah,” desah Mum melambaikan tangannya dengan tampang pasrah sekalipun aku bisa melihat harapan aneh berkilat di matanya. “Hanya saja pastikan dia tidak pernah masuk ke kamarmu, atau... berusaha menggigit lehermu seperti yang dilakukannya seminggu yang lalu.”

----
*"Ini hari Minggu."
**"Kepalaku sakit."
***kopi panas yang dicampur dengan susu hangat
****"Trims"



Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!

Next Chapter Next Chapter

Komen
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang boleh memberi komen. Sila Login

Perihal Penulis

Lumia
Hantar Mesej
Lumia

Karya
Cetak
Lihat karya ini dalam format cetak.
Emel
Hantar karya ini melalui emel.
Karya Curang
Karya ini melanggar Kod Etika Kapasitor?
Rekomen!! rekomen! 
Masukkan karya ini ke dalam senarai Rekomen!
Reviu karya ini rekomen! 
Luahkan pandangan anda pada karya ini.
Sebarkan
Sebarkan karya ini dengan menggunakan url di bawah:
bloglinesRedditStumbleUpontechnocratiYahoo
DeliciousdiggFacebookGoogleNewsvine

Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor.

hakcipta karya ini
Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan
iklaneka




iklaneka

Kenali Kapasitor.net

iklaneka

menarik di kapasitor.net

iklaneka

panduan penulisan DBP

Local search