Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Selamat Datang Pengunjung
Ayo, gabung sekarang
Log masuk jika sudah mendaftar
Penulisan > Novel > 88 Keys of Life -- A Gifted Child
Next Chapter Next Chapter

5.0
1 Penilai
Part 1
Dihantar: 10/07/2008 pukul 03:22:16 AM | 1589 Bacaan
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!

 

Taman di pusat kota, selalu ramai dihiasi pengunjung. Dengan nyanyian merdu dari angin, atau daun yang berbisik menanti gugurnya asa. Kota ini kota yang kecil, namun damai. Tidak banyak fasilitas yang tersedia, namun itulah yang menyebabkan ia tetap luar biasa.

 

            Seorang wanita duduk di bangku dekat dengan sebuah kolam dan ia tersenyum sendiri di sana. Kakinya yang polos tanpa alas, tampak sedang bermain dengan rumput yang tersipu. Tidak ada tanda larangan di sini, bukankah rumput memang berteman dengan kaki? Sebab rumput adalah alas kaki yang disediakan oleh alam. Gratis!

 

            Para pemuda pemudi sedang menikmati sore yang cerah itu, duduk-duduk sambil tertawa pelan atau berjalan-jalan hingga datangnya malam. Seorang anak datang berlari dari seberang jalan, hampir menabrak sepasang kekasih, melewati sederet panjang bunga-bunga, lalu jatuh terjembab di atas rumput dekat kolam. Lama ia terdiam sebelum akhirnya membalikkan badan, menatap langit-langit senja.  Air mata masih mengalir dari sudut matanya yang berkaca-kaca. Dan ia hanya membisu.

 

            Sang wanita merasa prihatin lalu mendekat kepadanya dan turut berbaring di atas rumput, menekuk kedua tangannya di atas kepala sebagai penyangga. Anak itu tidak tampak terganggu, tatapannya tetap sama, mungkin tidak peduli. Suara air mengalir terdengar dari arah kolam, gemericiknya damai menenangkan.

 

            “Salam, Nak,” sang wanita mencoba untuk membuka percakapan, menoleh sedikit ke arah kanan. Anak laki-laki itu tetap diam tak bergeming. Bajunya yang putih bersih tampak kecoklatan sekarang, begitu pula dengan celana pendeknya.

 

            “Anda penduduk baru di sini?” Rick bertanya dengan suaranya yang dingin. Tatapannya masih menatap langit senja, menghitung awan, mengamati langit yang terus berubah.

 

            “Betul, Nak. Nama saya...”

 

            Sang wanita terdiam, tampak bingung. Rick mengerutkan dahinya.

 

            “Saya lupa,” kata wanita itu pada akhirnya.

 

            Bagaimana mungkin wanita ini lupa akan namanya sendiri? Apakah ia amnesia? Kalau begitu kenapa ia bisa berada di sini? Rick berpikir keras.

 

            “Di mana Anda tinggal?” tanya Rick.

 

            Wanita itu bangun dan terduduk di atas rumput, ia menunjuk salah satu bangunan yang menghadap ke arah taman kota, “di sana.”

 

            Rick melihat bangunan itu sekilas, sebuah rumah yang sederhana namun asri. Ia masih ingat denah keseluruhan rumah itu ketika ia melihat arsipnya di perpustakaan kota.

 

            “Anda bohong.”

 

            “Tidak, saya tidak bohong. Saya memang lupa nama dan siapakah saya ini, tapi saya bukan pembohong,” ujar wanita itu, bingung.

 

            “Kalau begitu, coba jawab pertanyaan saya,” tantang Rick. Ia bangkit dari rumput, mengusap air matanya yang masih tersisa, dan menatap tajam wanita itu. Ia perlu tahu asal usul wanita ini, sebab tidak ada seorang pun di kota ini yang latar belakangnya tidak ia ketahui—ia yang dapat menghafal segalanya.

 

            “Sejak kapan Anda tinggal di sana?”

 

            “Hari ini.”

 

            “Dengan siapa Anda tinggal?”

 

            “Sendiri.”

 

            “Berapa kamar mandi yang ada di sana?”

 

            Wanita itu mengerutkan dahi, lalu dijawabnya, “tiga.”

 

            “Anda bohong,” kata Rick pada akhirnya.

 

            “Di mana letak kebohonganku, Nak?”

 

            “Anda tidak lupa nama Anda, dan Anda tahu asal usul Anda. Anda juga bukan penduduk baru di sini. Mungkin Anda dulu pernah tinggal di sini, lalu kembali lagi ke rumah itu.”

 

            “Bagaimana kau tahu, Nak?” sang wanita bertambah bingung.

 

            “Tahu saja,” kata Rick dingin lalu kembali berbaring di atas rumput. Tentu saja ia tahu, sebab kamar mandi di rumah itu memang ada tiga, namun salah satu kamar mandi terletak di ruang bawah tanah yang tersembunyi. Oleh karena itu wanita ini pasti berbohong, karena seseorang yang baru pindah hari ini tidak mungkin sempat menemukannya. Lagipula, apakah ada orang yang mampu bersikap sesantai ini ketika nama ataupun asal usulnya  saja tak dapat diingatnya? Pastilah wanita ini berbohong.

 

            “Tapi aku memang lupa namaku dan asal usulku, karena aku memutuskan untuk melupakannya,” ungkap wanita itu, ia masih terduduk di atas rumput dengan tangan menyangga bagian belakang tubuhnya. Ia tersenyum dengan ekspresi yang lebih santai sekarang.

 

            “Memutuskan untuk lupa? Bagaimana? Anda pastilah hanya berpura-pura melupakannya, dan Anda akan terbangun pada tengah pagi karena masa lalu mengusik tidur Anda,” sahut Rick yang mulai tertarik. Setengah dari pikirannya yang penuh logika mengatakan bahwa wanita ini pembohong dan separuhnya lagi dipenuhi oleh rasa ingintahunya terhadap wanita ini.

 

            “Tidak, Nak. Aku telah melupakannya, artinya aku tidak akan pernah mengingat nama dan latar belakangku yang sebelumnya. Aku adalah manusia yang baru sejak aku pindah ke kota ini,” ujarnya. Rick tercengang. Bagaimana mungkin?

 

            “Oh ya, siapa namamu?” ujar wanita itu kemudian.

 

            “Rick.”

 

            “Hm.. Lalu apa ya nama yang cocok untukku? Bisakah kau membantuku, Nak?” tanya wanita itu. Rick hanya mengangkat alis dan mengamati wanita itu secara seksama. Umurnya mungkin sekitar tiga puluh atau empat puluh atau bahkan lima puluh, entahlah, rasanya wanita ini sulit sekali dianalisa. Pakaiannya santai, tidak jauh berbeda dari baju dan celana pendek yang dikenakan Rick.

 

            “Entahlah.”

 

            Rick mengira wanita itu akan marah atau kecewa karena mendengar jawaban Rick yang serba singkat, namun ternyata senyum tuluslah yang diberikannya. Kebingungan Rick semakin menjadi-jadi.

 

            “Hm.. Bagaimana kalau Wind? Aku selalu ingin menjadi angin yang dapat bertiup ke mana pun,” kata wanita itu kepada Rick yang sudah duduk bersila di atas rumput sekarang. Rupanya Rick yang sedang kebingungan, curiga, tertarik, ingin tahu, dan segala macam pemikirannya telah membuatnya benar-benar penasaran sekarang. Kesedihannya yang tadi terukir jelas ketika datang ke taman telah sirna tak membekas sama sekali.

 

            “Apa menariknya menjadi angin?” Rick menyadari bahwa nada bicaranya kelewat angkuh maka cepat-cepat ia melanjutkan, “maksudku, bukankah angin mudah terombang ambing ke segala arah?”

 

            “Nak, kau perlu tahu ini. Justru anginlah yang menggetarkan udara, karena angin adalah udara yang bergerak. Pernahkah kau rasakan betapa sejuknya ketika angin berhembus kepadamu? Angin dapat merasakan apa pun, and the greatest part of this life is to feel!

 

            Wind begitu bersemangat hingga menaikkan kedua tangannya membentuk huruf Y di udara. Rick menyetujui nama itu dengan pikiran-pikiran yang masih terus membenturkan kepalanya dengan analisis logika. Siapakah wanita ini sebenarnya? Apa masa lalunya hingga ia melupakannya? Rumah itu, ya, rumah itu! Bagaimana mungkin ia dapat tinggal di sana? Apakah Bu Shervy mau menjual rumah kesayangannya itu kepada Wind? Bu Shervy adalah orang yang tertutup dan galak, di mana ia sekarang? Sudah beberapa hari Rick tidak melihat Bu Shervy, begitu pula masyarakat sekitar. Rick berjalan pulang ke rumahnya setelah pamit dengan Wind. Perasaannya yang masih campur aduk membuat perutnya mual, tiba-tiba hari sudah larut malam dan ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya di rumah nanti.

 

♫♫

 

            Seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun tampak kumal dengan kaos dan celana pendeknya yang kecokelatan karena tanah, kotor dan berdebu. Rambutnya berantakan dan ekspresinya datar. Sepanjang jalan, orang-orang menyingkir dan memberinya jalan. Anak macam apa yang berkeliaran hingga jam segini?

 

            Beberapa pegawai salon tampak tersentak ketika berpapasan dengannya, setengah prihatin setengah melecehkan. Mereka mengira bahwa Rick adalah anak terlantar, gelandangan mungkin. Meski kondisi Rick tidak separah itu, mereka tetap berbisik-bisik satu sama lain menunjukkan keprihatinan dan cemooh masing-masing. Terbiasa dengan perkataan-perkataan mengejek ketika membicarakan orang lain dengan Ibu Rick, karena hanya dengan begitulah mereka masih dapat tetap bertahan dengan sedikitnya kualifikasi yang mereka miliki. Seandainya mereka tahu bahwa anak itu adalah Rick.. Tapi cahaya yang redup dari lampu jalan tidak cukup memantulkan parasnya yang kaku sehingga para pegawai salon pribadi keluarganya  itu pun berlalu. Toh Rick tidak peduli.

           

            Anak laki-laki itu menyeberangi jalan dan terus menyusuri trotoar. Rumahnya terletak tepat di sampingnya namun ia harus berjalan cukup jauh untuk mencapai pintu masuk utama. Entah apakah bangunan ini masih tergolong dalam kategori rumah atau istana, namun lahannya mengambil jatah  dua puluh lima rumah biasa. Keberadaannya cukup mencolok, dengan desain yang sederhana, penuh bunga-bunga. Dikelilingi dengan pagar besi berwarna hitam dengan ornamen unik seperti sulur tanaman di atasnya, pagar-pagar tersebut membentuk wilayah persegi dengan masing-masing sisinya membentuk panjang yang sama dengan panjang lima rumah biasa di daerah itu. Keindahannya setara dengan taman kota, penuh gemerlap cahaya lampu berwarna-warni.

 

            Rick sudah hampir mencapai pintu masuk utama ketika sebuah The New Audi A4 yang gambarnya baru terpajang di koran kemarin sudah meluncur di atas aspal halus rumahnya—menuju pintu gerbang. Warnanya abu-abu cemerlang dengan neon biru dibawahnya, memancarkan suasana elegan—menyeruak angin malam yang hitam. Tidak banyak yang mampu membeli mobil—apalagi mendatangkannya dari tempat yang jauh dalam waktu yang singkat ke kota yang kecil itu. Keluarga Rick sangat kaya dan tersohor di sini namun sedikit yang mengenal Rick karena kesederhanaannya. Mobil itu berhenti mendadak ketika pandangan pengemudinya melihat Rick. Kaca terbuka dan terlihat wajah Carlson—Ayah Rick, memakai salah satu setelan jasnya yang serasi dengan gaun abu-abu halus yang membalut tubuh istrinya.

 

            “Ke mana saja kau?” tidak ada tatapan khawatir dari kedua bola matanya.

 

            “Oh—Rick, anakku.. Kau tidak apa, kan? Oh—maafkan perlakuan Ibu tadi, Rick..” Lisa hampir menitikkan air mata, namun ditahannya sebab maskara yang ia gunakan pasti akan berantakan. Ia tidak ingin tampil memalukan di pesta nanti.

 

            Carlson menyikut tangannya, sekadar memperingatkan bahwa Lisa sudah tampak terlalu lemah di depan anaknya dan itu memalukan.

 

            “Maaf. Aku hanya pergi bermain,” Rick menjawab singkat.

 

            “Jangan pernah kau ulangi, Rick. Kami sangat mencemaskanmu.”

 

            Lalu ia menutup kaca dan mereka pergi berlalu.

           

            Ya, ya, ya, tentu kalian mengkhawatirkanku. Rick mendesis dalam hati.

 

♫♫

 

            Suasana kota itu di pagi hari selalu ceria, anak-anak bercanda tawa dengan saudaranya lalu cepat-cepat menggendong ransel mereka masing-masing dan keluar dari rumah. Ibu mereka menyusul setelah mengunci pintu, dan mereka berjalan beriringan, bernyanyi, bercanda, hingga setiap langkah membawa mereka semakin dekat ke sekolah. Ada pula mereka dengan kemampuan finansial menengah ke bawah, berjalan kaki atau mengayuh sepeda dengan seragam kerja yang telah memudar warnanya. Dan dari sekian banyak orang-orang yang sibuk dengan aktivitas pagi harinya, hanya satu atau dua mobil saja yang terlihat melintasi jalan dekat taman kota itu. Rick duduk sendirian di dekat kolam, seperti biasa, dengan beralaskan rumput. Ia tidak perlu pergi ke sekolah karena guru privatnya baru akan datang nanti siang. Ia melihat anak-anak itu—yang masih dalam perjalanannya menuju sekolah—meminta permen yang dijual di pinggir jalan, merengek-rengek pada ibunya—yang tersenyum sambil mengeluarkan dompet. Ia iri. Ia tahu, ia tidak pernah diperlakukan demikian. Namun ia juga tahu, banyak orang yang iri padanya. Jadi, ia memutuskan, untuk tidak memikirkan hal itu lagi.

           

            Rick bangkit dari sana, lalu berjalan menuju trotoar terdekat. Ada baiknya mengisi waktu dengan membaca sebuah buku, pikirnya. Ia bosan di rumah, ia tidak nyaman berada di sana. Lebih baik di taman yang kotor ini, penuh debu, tapi ia bahagia. Setelah menyeberang dan melintasi beberapa rumah, ia tertegun saat melihat rumah Wind yang asri. Tidak ada yang berubah dari pemandangan luarnya. Saat ia melintasinya, terdengar dua orang yang sedang bercakap-cakap. Maka ia penasaran dan mendekatkan telinganya ke pagar kayu, ia merapat hingga tubuhnya terlihat samar oleh bayang-bayang pohon besar yang ada di dekatnya.

 

            “Apa kau yakin, Nina?” tanya seorang pria. Suaranya yang terdengar sedikit serak dan berat menunjukkan bahwa pria itu cukup tua.

 

            “Tentu, Charles. Setelah Bu Shervy mengenalkan kita pada wanita itu, ia tidak pernah terlihat lagi, aku sudah bertanya kepada seluruh warga kota ini yang kukenal! Tidak ada seorang pun yang melihatnya setelah hari itu, tidak ada! Bagaimana mungkin ia tidak berpamitan pada kita, Charles? Oh—firasatku buruk, buruk sekali—Oh, Tuhan—apa yang telah terjadi?” wanita yang dipanggil Nina tersebut berbicara cepat, panik, dan terisak pelan.

 

 

            Rick semakin penasaran dan mengintip melalui celah pagar agar ia melihat sosok keduanya lebih jelas. Charles adalah laki-laki tua, karakter tukang kebun yang jujur dan pekerja keras. Sedangkan Nina adalah seorang wanita—seumur Charles, mengenakan baju kumalnya, pakaiannya menandakan ia bekerja sebagai pembersih di rumah itu. Wajahnya tampak cemas dan gundah.

 

            “Tenang kawan.. Kita pasti akan segera tahu,” sahutnya sambil merangkul bahu Nina. Sesaat kemudian ia mendorongnya pelan, seakan teringat sesuatu.

 

            Ada apa, Charles?” tanya Nina kebingungan. Isak pelannya seketika terhenti.

 

            “Nina, ingatkah kau, ketika Shervy mengenalkan kita pada wanita itu. Apa yang dikatakannya?”

 

            “Hm.. Seingatku Bu Shervy tidak mengatakan apa pun tentang wanita itu, bahkan namanya sekali pun. Kira-kira ia mengatakan demikian: Nina, Charles, mulai sekarang ia akan tinggal di sini. Layanilah ia seperti kalian melayaniku. Lalu seperti yang kau tahu, Charles, mobil hitam itu datang dan ia berkata: Ah—aku harus pergi, permisi. Dan ia melangkah pergi dengan terburu-buru,” Nina menjelaskan sambil berusaha mengingat-ingat, tatapannya menerawang. Sebelum Charles sempat melanjutkan ia sudah menangis tersedu-sedu.

 

            “Oh Charles—malang nasibnya—ia tampak begitu ragu saat itu—harusnya aku menghentikannya, berusaha menyelamatkan! Bu Shervy adalah orang yang baik—ia bahkan berusaha lebih terbuka akhir-akhir ini! Bayangkan betapa sulit baginya untuk membuka diri! Oh—Charles, sungguh Bu Shervy adalah orang baik. Apa yang telah terjadi? Oh—aku tak mampu memikirkannya.. Dan wanita itu! Siapa dia? Aku tak pernah tahu namanya, aku tak pernah tahu dari mana asalnya, dan—Oh Charles, andai kau tahu—dia begitu aneh! Bayangkan, ia tidak membawa apa pun selain beberapa helai baju sederhana—yang begitu sederhana, terlalu sederhana tepatnya, dan sebuah piano! Hanya baju dan piano! Tidak ada apa pun, dan tidak pernah kulihat ia berkomunikasi dengan teman atau saudaranya.. Oh, firasatku begitu buruk padanya. Aku begitu takut..” Ia tercekat ketika melihat Wind datang dari seberang jalan, hampir masuk ke pekarangan rumahnya. Jantung Nina seakan-akan berhenti berdetak, Rick tahu itu—karena ia merasakan hal yang sama. Udara terasa diam, tak bergerak, dan ketiga orang itu membatu di sana seiring dengan langkah Wind yang semakin mendekat. Nina bereaksi tepat pada waktunya untuk bersembunyi di balik semak-semak berbunga dan..

 

            “Selamat pagi Bu,” Charles menyapa, berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.

 

            “Oh, selamat pagi Charles!” Wind berjalan ringan menuju pintu dan ia menambahkan, “kau bisa keluar dari sana sekarang, Nina..”



Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!

Next Chapter Next Chapter

Komen
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang boleh memberi komen. Sila Login

Perihal Penulis

cassle
Hantar Mesej
cassle

Karya
Cetak
Lihat karya ini dalam format cetak.
Emel
Hantar karya ini melalui emel.
Karya Curang
Karya ini melanggar Kod Etika Kapasitor?
Rekomen!! rekomen! 
Masukkan karya ini ke dalam senarai Rekomen!
Reviu karya ini rekomen! 
Luahkan pandangan anda pada karya ini.
Sebarkan
Sebarkan karya ini dengan menggunakan url di bawah:
bloglinesRedditStumbleUpontechnocratiYahoo
DeliciousdiggFacebookGoogleNewsvine

Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor.

hakcipta karya ini
Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan
iklaneka




iklaneka

Kenali Kapasitor.net

iklaneka

menarik di kapasitor.net

iklaneka

panduan penulisan DBP

Local search