Kesal yang kau timbun di kupingku Sudah penuh dan berbau busuk Kotoran dan peluh keringat pemulung Lengkap dengan lalat-lalat sesalku
Kini kupingku menakutiku dengan sampah Sampah baru berupa selimut dan reruntuhan rumah Yang dulu kau buat sebagai penghangat Saat hangat lenyap oleh gigil sedih pekat
Mungkin kupingku sudah seluas bantar gebang Busuknya rindu dan sesal selalu bertanya Tentang program daur ulang
Atau solusi lain, mungkin memendamnya Di ceruk kosong perasaanku. Sekalian Menjadi kompos bagi kesuburan sabarku Setidaknya bisa jadi pelngkap indah ceritamu
Di kupingku kau kenal betul aneka sampahnya Aku sendirilah yang membuang emosi tidak pada tempatnya Dan kau kesal. Aku mengartikanya sampah-sampah baru Aku salah, lalu cuma bisa menyesal, sambil berdoa semampuku
Kau datang membawa cotton bud dan hatimu Menganalisis kupingku, memberi nasehat semacam dokter THT Agar kupingku kembali jadi tetaman kata yang lebat perasaan cinta
|