ia,
Sebut saja begitu.
Kau pastilah tahu mengapa tak sebut nama.
Tapi pastilah kau tahu, ia siapa?
Sebab rengek rintihmu, igau dan khayalanmu;
ia selalu kau hirup dan hempaskan.
Sebaris demi sebait, gumpalan nafasmu keluhkan ia; tak menentu
sekata demi sekalimat, jerat jeda akalku; melamuni halimunmu
Kau pernah memanggilnya; sajak. Sebab ia mampu mengarak benak
dan kau menyebutnya tuhan, karena kau jadi tuannya.
Kau pernah juluki ia; puisi. Sebab ia sanggup isi impi
kau meneriakinya setan, karena kau bisa pecundanginya
dan kau pernah juga menjelma
ia, apalah ia di lipatan waktu dan mata angin,
ia sembunyikan kau dan aku,
karena yang ada hanyalah pertanyaan dan keraguan
bukan keterputusan dan kesinambungan
ia, apalah?
ia,
________
kediri, 18012009
|