untuk hujan yang mengguyurku di sebuah kampung, pada sebuah malam
hujan malam yang panjang setelah bersama seharian masih ada hasrat yang belum juga sempat aku tuntaskan pada bola bola matamu yang mengirim beribu suratan, rasa apa yang kau simpan di kedalamannya sungai sungai kampungmu yang ditelan malam dan kegelapan?. alirnya terbayang bahkan sampai aku lelap sampai aku luruh menyapu peluh di tubuh.
hati hati, jalan lengang ini yang kita lalui berserak batu yang kalau kau terjatuh, hilang semua asa hilang semua rasa. Maka jangan sedikit saja kau berjalan menjauh, payung ini di tanganku, menjadi naung yang kan membawa kita ke suatu masa dan usia di saat apa yang kita pugar sekarang, perlahan menjadi butir butir embun yang memenuhi cawan kebahagiaanku. menuntaskan dahaga tuntas kerinduanmu.
hujan aku masih mendengar angin menyiulkan dendang kita yang tadi dalam do re do re yang menghanyutkan pada nada nada terkadang sumbang aku lupakan semua duka. Maka pada jalan yang mana kau sanggup untuk melepasku, aku rela untuk melupakanmu? semua terminal yang direlakan malam untuk masih terbuka, hilang semua nama yang memang tak sempat juga tersisa selain kamu. sungguh, aku gigil sekarang.
malam, Na hujan di sini sampai rumahmu kiranya dengan apa kau akan pulang, sesudah semua jalan kau tutup bahkan sampai semua trotoar mengoarkan perpisahan, di mana jiwamu?
aku jawab, masih hanyut masih tenggelam di matamu.
|