Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Penulisan > Cerita Pendek > Cerpen Cinta

Seorang gadis yang tersipu malu

Cerpen sebelumnya:
Serban Kasih Abah
Cerpen selanjutnya:
Serban Kasih Abah 2

Seorang gadis yang tersipu malu

 

Seorang gadis yang tersipu malu, sendirian tersenyum di kerudung malam. Gaun biru muda jahitan ibu, membalut mesra putih kulitnya. Dia duduk manis di bibir pintu. Sebatang pena di tangan, selembar kertas dan seguris rasa di hati. Dipujuk jiwa segera beradu agar dingin hadir dalam lembut memujuk. Ingin digoreskan tentang apa yang belum sempat terasakan. Tentang langit malam yang dihiasi angan-angan dan tentang rembulan bergegas lewat tanpa jawab. Lalu dituliskan...

 

Di ruang rindu ini

aku kembali bertamu.

 

Di antara ribuan bintang-bintang

yang terhias di dada langit,

Kejora biru itukah untukku?

 

Pesanlah ia agar segera kemari

walau cuma di lewat mimpi-mimpi

pada setiap lena tidurku.

 

Telah ada keresahan

yang terbenam

dalam rindu yang tertahan

dan cinta itu tersembunyi

jauh di dasar hati.

 

Dingin ini telah terlalu lama

menjadi teman bicaraku.

 

Entah pada suatu ketika, angin membawa dia ke dakapan cinta. Merangkul aroma resahnya dengan tangan sepenuh hasrat. Sehingga waktu saling menyuapi lagu dan puisi. Cintanya terdampar di hamparan sahara, melintasi kehausan dengan nafas pahit. Sebagai putik bunga dengan segala kemabukan berwarna biru.

 

Dan saat itu juga dia masih menanti kejora mengirim cinta. Dia menanti dan terus menanti. Apakah hari ini juga seperti hari-hari semalam, hanya sepi yang berkirim salam. Telah berulang dikirim isyarat rindu lewat sang pungguk merayu bulan. Di ranting kasih yang berombak lembut, telah terbawa sungai ke hujung matanya. Rindu itu melambai lagi, menjadi sembilu membalut sepinya.

 

Walau harapan terus layu

diri perit dihempas waktu
walau impian terus membayang

aku ingin terus  menyintaimu.

Aku ingin menyintaimu
walau hati terus didera pilu
kepedihan yang terus bergulir
namamu kian jelas terukir.

Cinta seharusnya membahagiakan
Karena hidup itu anugerah Illahi

kehidupan harus berjalan
dan aku harus bertahan

dengan atau tanpamu.

Dia mulai ragu saat tersapa cinta, dan kini mula terhirup rindu yang menyesakkan dada. Ketika hati mula berbicara, lorong  dihadapannya itu hampa. Dia terlena mencari makna dari kerlingan mata dan sentuhan yang membiru. Cintakah itu? Saat ku tatap matamu, terpesona dan hanya hati berkata-kata. Cintakah itu? Saat dirimu mula pergi, terasa semangat layu tak bermaya. Cintakah itu? saat rindu mencengkam jiwa, sepi, dan menyakitkan. Jika sememangnya cinta itu satu perasaan yang membahagiakan, kenapa dirinya sangat derita? Maka dicoretkan lagi tentang resah.


Saat hatiku tersentuh dia
ada pijar yang terbentang

lorong mendatang  itu sulit

berliku dan kelam tanpa ehsan

perisaiku kekuatan yang redha

 

Masih kupegang erat

dan  telah kuhalangi waktu

biar segan berlalu

segera memelukku erat
dengan mata terpejam

dan hati menggumam
 

Maafkanlah dia kerana telah membisu. Cinta itu membuat dia kehilangan kata-kata. Ada geriji ilusi yang memenjarakan kata. Diam dalam resah itu adalah dia. Seorang dia, yang sering tertambat kunci di rantai keberanian. Terseksa dalam rasa menghimpit tanpa undang. Dia yang tersipu malu masih menanti kejora menghulur pelangi.

 

Aku bukanlah sesiapa

dalam hidupmu

namun aku tetap

seseorang yang kau kenal

seorang yang pernah

kau lamarkan cinta

lewat selaksa puisi-puisimu.

 

Maafkan aku kerana membisu

diamku itu  mahu sang dara

yang kali pertama disapa teruna.


Gelombang asmara itu datang lagi, bahkan menyapa lebih awal tengah malam mengetuk  pintu hati saat gejolak asmaranya bergelora. Dia masih semekar melati. Angin dari gundah dadanya, bergegas terbang mendesir ikuti hati bergoyang derukan gerak  membuat  fikiran terbuai  menangkap setiap pesan muncul.


Di bawah pancar rembulan, irama mengalunkan lagu,  nyanyikan lagu rindu pada syurga yang kabur. Senyum yang selalu terkembang, sinari kegalauan jiwa menikmati perjalanan geraknya. Barangkali hidup seperti seorang penari laut menarikan pesan hati yang selalu bergolak  berharap akan ada yang datang dan memberi erti lalu ikuti gerak dan tenggelam dalam waktu raga menghilang, jiwa terbang menuju tanah impian.

 

Sekeping hati pun bertanya lagi tentang cinta pagi ini, senyum manis kembali menghampiri, mengetuk dan bertamu pada ketulusan diri. Sekeping hati kembali menjamu. Langit akan selalu mencintai bumi dengan sinar mentari dan air hujannya. Cinta umpama sebongkah rindu yang tak pernah terselesaikan. Rasa ini menjadi teristimewa untuk diri seperti senja terbit kembali

 

Dia ingin diterbangkan angin keluar dari cinta yang hanya sebentuk dinding dingin. Dicuba berlari mengejar bayangan yang sering datang menghantui. Terhempas dia dalam keinginan kalbu. Dipeluk ranting tua untuk hembuskan angin, agar dapat melayangkan hati terbang dalam langit cinta.  Hanya yang dia ingin, angan ini bersambut.

 

 

AKu ingin mengarungi samudera rasa
berlayar dalam biduk asmara
menuju ke suatu pulau cinta
rinduku yang tersisih
sunyiku yang berpatah
lidah ku biar bernyanyi

Alam pasti  berbisik

suatu hari kami akan menerbangkanmu

ke angkasa menuju kejora
bintang itu sangat gemerlap
menerangi dengan kilauan nyata
Kami akan membawamu kepadanya

 

Aku pun terpana
tanpa mampu mensyairkan kata
tapi aku tau

itu pertanda cinta

Seorang gadis yang tersipu malu itu kehabisan dakwat. Penanya telah kering. Lembaran kertas itu masih banyak yang kosong. Masih rindu itu belum terjawab. Dia lelah menjawab diri. Perlukah disalahkan diri yang tersipu atau takdir itu yang enggan berbicara dengannya. Malu itu tidak percuma, ia  datang dengan harga mahal perlu dibayar.

 

Dia memutus untuk terus di situ, menunggu dengan asa, walau apa jua harga yang perlu dibayar. Dia seorang gadis yang tersipu malu.

 

 

 

 

Baca Puisi Teluk Bidara di Bisik Angin Teluk Biadara

Cerpen sebelumnya:
Serban Kasih Abah
Cerpen selanjutnya:
Serban Kasih Abah 2

Share!Email

HTML:
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!
Nilaikan karya ini
Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor. [Login]
3.8
5 Penilai

Info penulis

Sang Penyu

turtle with zero brain
Upenyu | Jadikan Upenyu rakan anda | Hantar Mesej kepada Upenyu

Info Karya
print CETAK
hakcipta karya ini
Attribution-Noncommercial 2.5 Malaysia
Keterangan

email EMEL
karya curang LAPORKAN
rekomen! REKOMEN!!
reviu! REVIU

lain-lain karya Upenyu
TANAH SUKU EKAR | 4529 bacaan
Bisik Angin Teluk Bidara | 3022 bacaan
Di Sayap Kupu-Kupu Terbang | 4564 bacaan
Cerpen Kontot: Rajuk | 2562 bacaan
Kabus Dari Seberang | 3701 bacaan
Gerimis dan Pelangi | 2664 bacaan
Surat Cinta Threasia | 3485 bacaan
Syawal Terakhir | 3923 bacaan
Kerana Zuriat | 21436 bacaan
Perempuan Itu Memang Ingin Pulang | 3765 bacaan
Lihat semua

komen dari Facebook

9 Komen dalam karya Seorang gadis yang tersipu malu
Hantar komen
Sila login ke Kapasitor atau gunakan akaun Facebook anda


Ikut kapasitor



Cerpen-cerpen berkaitan

Dari arkib cerpen Kapasitor.net


Arkib
100 Cerpen Terbaik