belum ada judul (5) -Esah Molek

 

aku sendiri gagal meneka dari mana asalnya kemarahan yang bertangguh-tangguh ke atas Esah Molek. kebencian aku dengannya serupa piutang yang ditagih lekas langsai. setiap kali selisih di fakulti, serasa mahu dihempuk kepalanya dengan beban yang menghimpit hati, menyengkak seluruh dada. ya, cinta tak kepalang pada kekasih aku, barangkali, yang menyisa sabar.

kenyataannya, Esah Molek tetap berbuat aku hilang waras kadang, bila difikir agaknya segala iblis sudah kembali  taat atau malaikat sudah kembali ke sorga dan dia selesa menyakiti aku tanpa dibalas serupa apa.

mimpi kan babi, Esah Molek.
senyaman mengepongnya di celahan mulut kau yang pantas menghalalkan hamun.

aku belum pernah membiarkan brahala ini keluar dari tubuh, kecuali sekali yang tak berlanjut-lanjut.

cukuplah, satu kali.
dulu.

Baca perbualan

Cerpen-cerpen Berkaitan

Semua cerpen-cerpen Umum

Cerpen-cerpen lain

Perbualan

Perbualan

Want to join the conversation? Use your Google Account

Cerpen-cerpen lain nukilan Waruna

Read all stories by Waruna