Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Penulisan > Cerita Pendek > Cerpen Eksperimental

Perang Kontradiksi

Cerpen sebelumnya:
Dunia Kecil Si Putih
Cerpen selanjutnya:
Kisah Rika

Bunyi dentuman merata-rata di seluruh bumi dan saling bertingkah di antara satu sama lain. Media massa penuh dengan berita muktahir peperangan antara dunia bunian dan manusia dengan aura kiamat akan sampai. Angkatan X-Men bergabung dengan manusia biasa membentuk batalion-batalion kukuh dalam menghadapi serangan ahlul magis, di mana Harry Potter, Auror bunian menjadi panglima ahlul magis. Presiden-presiden antara dua dimensi, Barrack Obama dan Kingsley Shacklebolt enggan mengalah antara satu sama lain demi untuk menjadi ketua bumi. Ahlul magis berkendara di setiap pelosok negara menghuru-harakan manusia.

" Ah-VAH-dah keh-DAV-rah ~ " Gumam Harry sambil menghalakan tongkat sakti ke arah Cyclops yang sedang mensasarkannya dengan mata lasernya. Cahaya hijau yang bersadurkan bunyi mengerang kuat menghunjam Cyclops menyebabkan dia terus kehilangan nyawa. Storm yang terkejut melihat rakan seperjuangannya tewas terus menghalakan tangan ke atas langit. " Kau bayar atas kematiannya! " Awan berarak mendung dengan segera, angin menderu-deru mengamuk. Zasss! Kilat mengenai Ginny yang cuba melindunginya. Dia terkaku kekejangan dengan kulit melepuh rentung. Harry tergamam akan tindakan refleksi Ginny. Dipangkunya Ginny yang sudah rentung dan dikucupnya dahi sebagai solidariti terakhir. 

" Im-PEER-ee-oh ! " Tongkat sakti Harry mensasarkan Storm yang sedang mengapungkan diri di awangan. Storm, tidak sempat mengelak, lalu matanya bertukar kaku kelabu, badannya turut berhenti berkinetikal, terus terhempas ke bumi dengan otaknya bersepai di jalanan. Puas, Harry berjalan di jalanan mencari angkatan-angkatan X-Men lain dengan tongkat magisnya dihalakan secara rawak menghancurkan bangunan-bangunan binaan manusia. Profesor Xavier yang memantau keadaan dari jauh dengan kuasa telepati mengeluh akan kematian mendadak anak buah-anak buahnya lalu mindanya cuba menerobos pemikiran Harry.

" Urgggh! " Harry terkujat kesakitan tidak semena-mena, melutut, meronta. " Kau sudah kehilangan isteri tersayang, pergilah berjumpa dan menemaninya di sorga. " Bergema suara halimunan itu di telinganya. Tongkat sakti Harry mulai mengunjuk dirinya sendiri. Matanya membuntang. Mulutnya terherot dipaksa melafazkan jampi serapah. " Con-FRIN-joh ~ " Badannya terasa kepanasan yang memuncak, lalu pecah bersepai. Terburai isi perut dan tulang-temulangnya yang menjadi serpihan di jalanan yang menjadi medan peperangan. Profesor Xavier tersenyum di dalam kantor Pentagon. Bahunya ditepuk. Dia tersentak lalu menoleh.  

" Kawan, kita tidak seharusnya bertelagah, bukan? " Profesor Dumbledore dengan kaca mata separuhnya mengukirkan senyuman sambil mengusap janggut putihnya. Profesor Xavier mengangguk sugul. Sesal membunuh Harry seketika tadi membuak. " Kerana pemimpin yang tamakkan kuasa, kita saling bertelagahan. Pemimpin yang sepatutnya disanggah, bukan? " Ujar Profesor Dumbledore lagi. Dia menunduk kepala, malu. Diam. " Pemimpin kita terlebih bijak, bilang mereka mahu jadi tuhan dengan menjadi yang terutama di dunia. Kita ini buah catur, kawan. Jangan menjadi mereka yang dipercaturkan. " 

Profesor Xavier mengetap bibir. " Aku cuma anjing yang mengikuti kata tuannya, kawan. Dia mengarah, aku menyalak menggonggong. Rindu jua aku dengan zaman kemasyhuran antara dua dimensi, di mana aku dan kau saling berlibur dengan coklat katak magis, menonton perlawanan Quidditch, dan minum posyen menyamar bersama-sama. Tapi itu dulu, Dumbledore. Aku anjing. " Profesor Dumbledore menggeleng. " Kita boleh memilih, X. " Profesor Xavier memandang redup mata sahabat lamanya. Perlahan, badan Profesor mengeras, matanya membeliak, tangannya menghunus tongkat sakti menghala diri sendiri. " Aku tetap anjing yang menggoyangkan ekornya. " Suara dalaman itu bergema dalam kotak minda Profesor Dumbledore.

" KROO-shea-oh ~ " Air matanya mengalir dengan bibir yang terkumat-kamit mengucapkan selamat tinggal. Badannya menggelitis kesakitan umpama ditusuk seribu pisau yang telah dipanaskan besinya. Menggeletar rohnya melangkah memasuki dimensi kematian. Profesor Xavier menghampiri tubuh sahabat lamanya dan membisikkan solidariti terakhir. " Jangan risau, kawan. Selepas ini giliran Obama dan Shacklebolt. Aku akan jagakan dunia ini baik-baik. " Tubuh Profesor Dumbledore dimamah angin magis, ghaib. 

Cerpen sebelumnya:
Dunia Kecil Si Putih
Cerpen selanjutnya:
Kisah Rika

Share!Email

HTML:
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!
Nilaikan karya ini
Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor. [Login]
4.0
5 Penilai

Info penulis

Conrad Weller

Seorang pentipu.
xConRadx | Jadikan xConRadx rakan anda | Hantar Mesej kepada xConRadx

Info Karya
print CETAK
hakcipta karya ini
Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan

email EMEL
karya curang LAPORKAN
rekomen! REKOMEN!!
reviu! REVIU

lain-lain karya xConRadx
Enam Satu Dua Tujuh | 2414 bacaan
Juadah | 1889 bacaan
Ayam Golek | 2555 bacaan
Damba | 2322 bacaan
Perjuangan | 2678 bacaan
Lihat semua

komen dari Facebook

6 Komen dalam karya Perang Kontradiksi
Hantar komen
Sila login ke Kapasitor atau gunakan akaun Facebook anda


Ikut kapasitor



Cerpen-cerpen berkaitan

Dari arkib cerpen Kapasitor.net


Arkib
100 Cerpen Terbaik