Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Penulisan > Cerita Pendek > Cerpen Autobiografi

Lahir Dari Batin

Cerpen sebelumnya:
Bawakan Aku Bunga
Cerpen selanjutnya:
Cerita Satu Pagi

Jarang sekali ada makhluk yang berjaya memasuki wilayah-wilayah batin dan menjadi penghuni tetap disini. Ada beberapa yang cuba mengetuk untuk masuk namun hilang ghaib sebelum sempat pintunya dibuka.

Pernah dulu, sesosok makhluk berjaya memasuki dan menempati satu kawasan dari sekian wilayah yang ada. Perlahan-lahan mulai mendirikan tiang-tiang rumah agar bisa tetap bermaustatim di wilayah ini. Tapi sayang, belum sempat menjadi sebuah rumah, entah taufan apa yang datang lalu merobohkan semuanya. Dia akhirnya pergi... meninggalkan jejak-jejaknya di denai-denai kehidupan. Seiring waktu yang bergulir, angin lalu terbang menghapus semua jejak-jejak itu.

Sejak itu...
Wilayah ini menjadi wilayah yang paling sunyi, tandus dan kontan. Bertanah kering dan kusam. Tumbuh-tumbuhan juga tak mau tumbuh diwilayah ini. Wilayah ini benar-benar sunyi sehingga tidak ada satu musafir pun yang berani menempuhi jalan-jalan yang ada diwilayah ini. Burung-burung yang ada juga enggan terbang dibawah langit-langitnya. Sesekali hanya hadir angin-angin yang setia berhembus ke permukaan pasir-pasirnya...

'Aku' hanya budak penjaga pintu untuk wilayah batin ini. Kunci nya selalu kupegang kemana saja aku berjalan, agar nanti saat ada yang mengetuk untuk memasukinya, aku bisa langsung berlari membukanya...

Satu waktu,
saat aku sedang menantikan kehadiran musafir-musafir yang sudi untuk sekedar singgah diwilayah ini, begitu lamanya waktu sehingga membuat aku tertidur, mungkin kerana terlalu lapar dan dahaga yang tidak tertanggungkan lagi....
entah berapa lama aku terlena, tidak pula aku tahu...

Sedar-sedar, aku telah dikejutkan oleh sesosok makhluk yang tidak pernah aku lihat sebelum ini...dia memperkenalkan dirinya sebagai musafir perjalanan... yang sedang menuju ketempat tujuan.

Aku menjadi hairan, dari pintu manakah dia masuk? Padahal aku yang memegang kuncinya sedangkan kuncinya masih ada padaku. Aku lalu bertanya padanya, 'Dari pintu manakah kamu masuk wahai sang musafir perjalanan?' Dia dengan tersenyum menjawab, 'Aku masuk dari pintu kepercayaanmu bukan melalui pintu penantianmu'. Aku cuma sekedar mengangguk. Aku tahu dia akan cepat pergi, seperti juga musafir-musafir yang lain, kerana wilayah ini tidak punya satu apapun untuk diberikan kepada mana-mana musafir. Air, makanan, tempat berteduh.. tidak sama sekali.

Dia menyadari bahawa 'aku' saat itu sedang dalam keadaan lapar dan dahaga, dia lalu menawarkan aku meneguk sedikit dari air bekalannya. Airnya manis sekali, aku tanyakan padanya 'Air apakah ini?'. Dengan redup matanya dia memandangku lalu sekali lagi tersenyum, 'Inilah air bagi musafir perjalanan, air yang berupa ilmu pengetahuan bekalan menuju tempat tujuan'. Aku meneguk dengan perlahan air ilmu pengetahuan darinya... segar dan begitu menyegarkan.... Dia lalu mengizinkan aku menjamah sedikit dari makanan yang dibawanya. Saat saja makanan itu mengenai lidahku... kelezatannya menular keseluruh tubuh badan. Luar biasa! 'Makanan ini diperbuat dari apa wahai Sang musafir? Sungguh-sungguh lezat.' Dengan wajah manis dan sering terlihat basah, dia tersenyum lagi. 'Makanan ini diperbuat dari zikir-zikir dan lafaz selawat sehari-harian'. Dari resepi-resepi itu aku tidak pernah merasa lapar dan dahaga lagi. Semangatku berkobar-kobar ... terus dan terus...

Aku perlahan-lahan mengikut langkahnya melewati wilayah-wilayah batin ini. Dia memberikan tongkatnya agar aku tidak terjatuh saat berjalan. Tongkat yang diperbuat dari akar kecintaan pada RasulNya. Aku berusaha dan terus berusaha untuk tetap memegang tongkat itu agar tidak tersadung oleh batu-batu penghalang jalan.

Aku tidak tahu berapa lama dia telah hadir diwilayah-wilayah ini, dalam tempoh yang tidak seberapa dia telah berjaya membina istana yang berkubahkan harapan dan keinginan, berdindingkan iman dan rasa taqwa, berlantaikan marmar kesederhanaan. Sekelilingnya telah mulai tumbuh rumput-rumput menghijau, pepohon renek mulai menempati sekeliling jalan. Bunga-bunga dengan kelopak mawar menebarkan harum yang menyegarkan. Burung-burung mulai berterbangan bernyanyi lagu-lagu damai dibawah langit-langit putih dan awan-awan biru. Entah kapan semua itu wujud di wilayah-wilayah ini. Tidak pernah aku sedari...
Dan 'aku' mulai berproses dari hari kehari... menghadirkan satu rasa... rasa yang tidak butuh bahasa untuk menterjemahkannya, mengalir terus dan terus sehingga ia menemukan satu titik yang bernama 'keikhlasan', proses yang tidak lagi memaksa, rasa yang tidak butuh apa-apa untuk memaknainya, cukup dengan hanya bisa merasainya... hadirnya menyejukkan dan perginya mendamaikan...

Ibarat permata, aku hanya punya satu, dan
jika kuberikan, aku tak punya apa-apa lagi. Apakah permata itu ?. Permata itu lah ''rasa'' Rasa yang ku pelajari entah dari negeri yang mana, Rasa yang lebih indah jika 'Rasa' itu tak pernah sampai''. Kenapa??... karena dengan
energinya dia akan terus berkembang dan akan terus menjadi baik... dan akan terus...''Rasa pada makhlukNya'' ini, telah menjadi ''mutiara'' kini, yang tak pernah habis jika aku berikan, dan tetap selalu ada...

Sekarang....
Aku tidak bisa menghalangi 'musafir perjalanan' untuk tetap tinggal diwilayah ini, kerana aku hanya budak penjaga yang fakir dan tidak bisa berbuat apa-apa diwilayah ini. Hanya 'Raja' yang memiliki seluruh isi langit dan bumi yang bisa menahannya untuk tetap tinggal. Hadirnya menyejukkan dan perginya mendamaikan... cukup dengan hanya 'aku' yang merasainya...

Dia tidak butuh aku untuk pergi ketempat tujuan, dan aku juga bukan butuh dia untuk sama-sama ketempat tujuan. Cukup air, makanan, tongkat dan jejak-jejak yang telah dia tinggalkan diwilayah ini yang menjadikan ia selalu subur. Selebihnya aku yang harus mencarinya sendiri, aku tidak harus tetap menunggu menjadi budak penjaga pintu, aku harus menjadi musafir yang berjalan... agar bisa sampai ke tempat tujuan.

Semoga 'Raja' yang menguasai isi langit dan bumi selalu melimpahkan kemudahan dan kenikmatan untuk dia terus berjalan menjalani jalan yang panjang ini. Dia telah menjadi penghuni wilayah batin di negeri yang lain. Bukan di negeri ini.... sungguh bukan.... terima kasih kerana telah sudi singgah diwilayah ini. Manisnya hikmah dan berkah yang ditinggalkan selalu menjadi derai-derai hujan yang menyuburkan. Sekali lagi..... hujan mulai membasahi wilayah batin ini.

* Dedikasi buat seluruh laskar cinta, teristimewa buat seseorang yang selalu menghujani batin dengan derai-derai muhasabah dan iktibar....

Cerpen sebelumnya:
Bawakan Aku Bunga
Cerpen selanjutnya:
Cerita Satu Pagi

Share!Email

HTML:
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!
Nilaikan karya ini
Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor. [Login]
4.3
4 Penilai

Info penulis
kemarin aku mengenalmu...hari ini tubuhku terbujur karena merindumu..apakah aku terbuai oleh sebuah sukma yang teretas dalam hati?atau hanya angan yang terpisah oleh sebuah samudera??aku hanya merasa indah sekarang....aku hanya merasa cinta sekarang....karena itu biarkan aku tetap terbuaiterbuai dalam sebuah cinta yang tersimpuh berbalut khayal...
GalihRatna | Jadikan GalihRatna rakan anda | Hantar Mesej kepada GalihRatna

Info Karya
print CETAK
hakcipta karya ini
Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan

email EMEL
karya curang LAPORKAN
rekomen! REKOMEN!!
reviu! REVIU

lain-lain karya GalihRatna
Bawakan Aku Bunga | 2972 bacaan
Lihat semua

komen dari Facebook

11 Komen dalam karya Lahir Dari Batin
Hantar komen
Sila login ke Kapasitor atau gunakan akaun Facebook anda


Ikut kapasitor



Cerpen-cerpen berkaitan

Dari arkib cerpen Kapasitor.net


Arkib
100 Cerpen Terbaik