Sungguh tidak tahan sepi,
dan masih melanggar janji.
Apabila angin membisu
Bulan bersinar kuning cahayanya
Awan putih ditelan malam
Bintang bertabur mati lakunya,
Aku merindu
pada dia yang ku dambakan
pada dia yang ku nantikan
pada dia yang ku sayang
pada dia yang tidak pernah ku lupakan
Dirinya yang punya jiwa kekasih
Dirinya yang pendam ungkapan
Dirinya yang indah, wangi
Dirinya yang jauh, sunyi
Lama dia pergi, tinggalkan ku.
Meski alam tidak sunyi, ku masih sepi.
Ku mencari kesempurnaan, namun setiap kalinya
tiada yang setanding dengan dia
Sehingga aku menjadi pemuja yang curang,
membutakan hati.
Aku penglipur lara, masih luka berdarah.
|