Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Penulisan > Koleksi Puisi > Puisi Ekspresi Diri

Suara

Dihitung kelopak-kelopak daun,

hijau kekeringan warnanya,

damai senandung dikira jejari halus lagikan tirus,

jatuh mereput dedaun kering,

dipijak-pijak lagi hilang di telapak bumi,

suara rayuan memencil dan terpinggir dari keriuhan,

bibir yang menyebut daun kian melupakan akar warisan,

yang dikenal cuma pohon Epal,

yang mekar meranum hanyalah buahan nun rantauan.

 

Lelangit sudah kelu mengenal rasa,

kata kotor cela lagi hina menjadi zikir budaya,

yang amar di lepau yang mungkar di pub dunia,

yang ditelan pelbagai rasa,

hingga spektrum warna zaman dilupus kira,

yang baharu diagung menjadi kuasa raksa,

hinggakan  lama dibiarkan usang mereput,

aduhai darah muda meniti jejak zaman,           

hingga tingkah bonda dilihat umpama sentora di rimba.

 

Unggul petah lidah berbahasa asing,

bahasa ibunda di ambang senja,

yang berlagu itu pop asing,

tergoyang-goyang berlaga tubuh,

senyum syaitan mengukir darjat di bahu,

sedikit-sedikit hilang Melayu dari rona budaya,

yang terhitung hanyalah (one two and three).

anak kecil dididik menjadi mata biru,

lihatlah nanti kelibat kurung Melayu menjadi rasmi solat.

 

Bukalah segenap mata yang berbalam-balam,

kuhitungkan satu persatu wadah pencinta,

yang menegak seri bahasa,

memerintah akal di tampuk sejahtera,

selagi pencintaku ada memikul tanduku,

takkan dimamah budayaku bangsa,

asal wujud bangkitlah dikau dipersada dunia,

kerana bahasaku perantara dunia,

melestari sempadan komunikasi.

Nilaikan karya
Info Penulis
Info Karya

Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan
< < Puisi sebelum
Menghiris
Puisi selepas >>
tentang sesuatu...

Lain-lain karya Adika
Lihat semua
Puisi terbaru
Bahasa Melayu
Latest Poetry
English
Puisi terbaru
Bahasa Indonesia
komen daripada Facebook

0 Komen dalam karya Suara
Hantar komen
Sila login ke Kapasitor atau gunakan akaun Facebook anda




Ikut kapasitor



admin blog