Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Penulisan > Koleksi Puisi > Puisi Kehidupan

#12 Gema alam

Semalam ku dengar lagi gema alam seperti hari-hari sebelumnya; tentang isinya. Tentang celaka, duka, pura-pura; manusia. Ingin saja ku dakap suara alam itu, Agar ianya tidak lagi sendiri dalam kesepian hakiki.


Alam ini sudah tua untuk mengurus dirinya sendiri. Manusia itu sudah tua dengan kemunafikan; nyata.

Manusia dan kepurabaikan itu, persis dua teman yang gembira bersama. Hingga terlupa akan alam yang semakin membongkok; hampir menjamah nisannya sendiri. Bagi mereka (manusia dan kepura-puraan), Persahabatan itu merupakan sebuah keutuhan dua mirat jengkel yang tiada henti mengekplotasi keindahan dunia.


Bercanda dan ketawa, megah bersepeda mengelilingi dunia atau berhenti di teratak celaka untuk menjamah dosa-dosa ruji. Ada juga mata-mata yang menegur akan sikap mereka. Tetapi, ianya sia-sia.


pabila terdengar dengus alam malam tadi, hatiku sarat mencuka; hampir kelat.


 ***
 

"Alam! bisikkan padaku, hembus duka kecewa itu. Pertontonkan!"


Tiada sahutan sedikit pun dari dalam. Hamparan permaidani hitam itu turut membisu seperti hantu. langit malam itu kelam, sangat-sangat teramat pitam pastelnya. Persis bidadari kusam bersama persalinan serba hitam yang berlalu tanpa menyapa. Kelat.


Aku rempuh kamar alam. Di kamarnya, tergantung banyak pastel-pastel jingga; Berkecemuk. Pada sudut kamar, ku temukan sebuah nota yang masih berselubung dendam, ku buka perlahan, isinya ringkas,


"MANUSIA ITU ALPA!"


Andai alam itu bisa memberitahukan apa ertinya...

Nilaikan karya
Info Penulis
Info Karya

Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan
< < Puisi sebelum
sekilas perasaan
Puisi selepas >>
sailang

Lain-lain karya Corbis
Lihat semua
Puisi terbaru
Bahasa Melayu
Latest Poetry
English
Puisi terbaru
Bahasa Indonesia
komen daripada Facebook

1 Komen dalam karya #12 Gema alam
Hantar komen
Sila login ke Kapasitor atau gunakan akaun Facebook anda




Ikut kapasitor



admin blog