Lafadz terakhir yang di ucapkan nenek sebelum meninggal di pangkuanku

  • 5
  • zera
  • 12 years ago
  • 1,831
  • FREE

 

Siang itu saat sibuknya aku bekerja tiba-tiba handphone berdering

"Hallo, assalamualaikum?
" Waalaikumsalam."
" Gasim, kamu segera pulang ya, karna Hababah sakit keras dan sekarang lagi diopname.
" Iya Umi, Gasim akan pulang hari ini juga, ucapku dengan fikiran teramat kacau galau".

Cepat-cepat aku selesaikan pekerjaan lalu bergegas ke tempat kost untuk mengambil beberapa pakaian. Setelah itu melanjutkan perjalanan pergi ke stasiun untuk pulang ka banyuwangi, maklum sudah beberapa tahun aku tinggal di jakarta untuk mengadu nasib. Gerahnya di dalam kereta membuat badan terasa seperti terbakar apalagi pikiran menalar pada hal yang tidak-tidak. Sampai dirumah aku hanya menaruh pakaian saja dan langsung pergi ke rumah sakit. Sampai dirumah sakit, terlihat Hababah tebujur diruang rawat inap.

" Hababah, Gasim sudah datang, bagaimana keadaan Hababah sekarang?
" Alhamdulillah agak membaik, tapi besok Hababah harus di oprasi dibagian payudara, karna kata dokter nenek terkena kangker payudara dan payudara Hababah yang sebelah kanan harus dibuang.
" Astaugfirllahaladzim! Sudah tua kenapa harus terkena penyakit seperti itu? Grutuku dalam hati".

Aku brusaha tegar dalam menghadapi cobaan ini, dan sering aku memberi semangat dan sedikit gurauan buat Hababah, tak jarang pula dia sering menggoda aku. Maklum dari dulu kita memang suka bercanda gurau

Ke esokan harinya, tiba saat-saat yang mengkhawatirkan buat aku dan keluarga. Rasa risau dan carut marutnya pikiranku saat-saat menunggu beliau di oprasi. Aku mondar-mandir kesana kemari dengan hati penuh kerisauan , dan lihat keluargakupun begitu. Aku sangat bingung pada saat itu.

Kurang lebih 6 jam kami menunggu akhirnya oprasi selesai juga. Hababah keluar dari ruang oprasi menuju ruang rawat inap. Terlihat tubuh renta yang tidak berdaya dan wajah yang begitu pucat. Lalu aku bertanya kepada dokter yang menangani oprasi itu.

"Bagaimana hasil oprasinya Dok?"
"Alhamdulillah berjalan lancar, dan kangker yang ada di payudara nenek anda sudah dapat diangkat, dan hanya menunggu bekas luka oprasiannya mengering. Semoga akan menjadi lebih baik dan nenek anda bisa pulih kembali. Ucap dokter kepada ku.
"Kalau begitu saya sangat berterima kasih atas bantuan dokter selama ini"

Begitu senangnya diriku mendengar kabar baik itu, lalu aku kembali menemani Hababah yang belum juga sadarkan diri. Doa dan dzikir terus aku ucapkan, sambil memegang tasbih melafadkan doa demi doa agar agar Allah memberikan kesembuhan buat nenekku. Lama aku menunggu disamping beliau hingga tak lama kemudian terdengar suara yang terucap.

"Allah.....Allah...... Astaugfirllah.... Suara itu terdengar dari mulut Hababah"
"Hababa, sadar ya... ini Gasim dan semua keluarga ada disini."
"Allah... Allah.... Antara sadar dan tidak sadar lafadz itu selalu terucap dari mulut beliau , akupun tidak tau apa yang sedang terjadi pada alam bawah sadarnya.
" Haus.... Minum....."
" Ini Hababah air minumnya." Setengah sadar nenek membuka matanya, di lihatnya wajahku dan yang lainnya, aku juga tidak tau apa beliau melihat jelas diriku apa tidak.

"Gasim... Sim..... sakit.... Aku genggam tangan beliau dan aku juga bisa merasakan betapa sakitnya apa yang dirasakan beliau, aku kompres keningnya agar suhu badannya menurun. Tanpa terasa air mataku mengalir"

Tidak lama dari itu Hababah mulai sadar, tapi masih saja beliau merintih kesakitan, mungkin karna luka bekas oprasi yang membuatnya begitu. Aku tanyakan lagi prihal kesehatannya pada beliau.

"Bagaimana kesehatan Hababah?"
" Alhamdulillah agak membaik, tapi terkadang perih Sim."
" Oh mungkin itu dikarnakan luka yang belum kering. Hababah harus sabar dan bisa menahan rasa sakit itu! Insya Allah sebentar lagi Hababah bakalan sembuh, Gasim akan selalu berdoa untuk kesembuhan nenek."
" Terima kasih ya Sim atas doanya."

Tidak henti- hentinya aku memberi perhatian sama beliau, sampai membersikan kotorannya pun aku lakukan dengan ikhlas, dan aku tak pernah merasa jijik. Sudah sepantasnya untuk diriku melakukan itu, karna tanpa beliau tak mungkin aku di lahirkan ke dunia ini, dan aku sangat menyayangi beliau.

Hari- hari kujalani dengan merawat beliau, sambil mengobrol, canda, tawa, dan beliau mulai bercerita kepadaku.

"Sim, Hababah pernah bermimpi bertemu ayah Hababah, beliau mengajak ke suatu tempat. Begitu indah tempat itu Sim, tidak pernah Hababah melihat tempat seindah itu, lalu Ayah mengatakan bahwa di sinilah tempat Hababah nanti."

"Sudahlah, itukan hanya sebuah mimpi, dan jangan terlalu difikirkan"
"Iya Sim. Kalau sudah waktunya manusia akan kemana?"
"Kok Hababah bicaranya begitu?" yang penting Hababah cepat sembuh dulu, biar tidak lama-lama tinggal di rumah sakit." Ucapku dengan sedikit risau.
"Hababah sudah capek Sim tinggal disini, ingin cepat pulang ke rumah saja"

Hari-hari terus berjalan, tidak terasa sudah empat hari Hababah disini, dan aku juga terkadang merasa jenuh. Tiba-tiba nenek berkata padaku.

"Sim besok Hababah mau pulang kerumah aja, tinggal disini sudah tidak betah."
" Ya sudah, biar Gasim minta izin ke dokter dulu, boleh tidak kalau nenek besok pulang?

Setelah berbincang-bicang dengan dokter, akhirnya beliau di izinkan pulang, akupun menyelesaikan oprasionalnya, setelah selesai semuanya akupun membawa beliau pulang ke rumah.

Sampai di rumah banyak orang yang menjenguk, maklum beliau terkenal orang yang sangat santun, murah senyum, dan taat ibadahnya, dan akupun langsung pergi ke Masjid untuk menunaikan Sholat Jum’at, dan tidak henti-hentinya aku panjatkan doa untuk kesembuhan beliau setelah sholat, dan sujud syukurku karna keadaan beliau mulai membaik.

Keesokan harinya seperti biasa aku menemani beliau, banyak sekali yang kami ceritakan, dan terkadang kita bercanda gurau, maklum kami sudah lama tidak ketemu, jadi kami puas-puaskan bercerita. Hingga tidak terasa siangpun menjelang, dan aku pamit sama beliau untuk sholat dzuhur, setelah sholat aku mendengar nenek batuk dan memanggil-manggil aku.

"Gasim... Sim..."
" Iya Hababah, ada apa?"

Aku bergegas mendekati beliau, alangkah terkejutnya diriku melihat beliau batuk darah. Aku membersihkan darah yang mengalir di mulutnya, tapi lagi-lagi beliau batuk darah, dan mengucap kata yang membuat aku sangat terkejut.

"Sudah waktunya Hababah pulang Sim... Ayah sudah menjemput. Sudah waktunya Sim...
" Nyebut Hababah, nyebut..... Allah...Astaugfirullah...Aku katakan itu berulang kali di telinga beliau, terlihat nafas beliau mulai tidak teratur"
" Peluk nenek Sim... Allah..... Allah........ lafadz itu selalu terucap dari mulut beliau dengan tersendat-sendat"

Aku peluk nenek dan tubuhnya aku rasakan begitu dingin. Aku lihat mata beliau menerawang keatas mulai memutih, dan terlihat juga nafas beliau mulai tersendat-sendat satu demi satu. Dengan badan yang gemetar, risau dan kesedihan yang dalam, Aku kumandangkan adzan di telingah beliau.

" Allahu Akbar... Allahu Akbar... Sampai selesai adzan nafas nenek menghilang, tak lama bernafas kembali, lalu aku kumandangkan lagi iqomad sampai selesai, dan aku dengar lafadz terahir yang terucap dari mulut beliau." Allah..." Akhirnya beliau menghembuskan nafas terahirnya dengan tersenyum di pangkuanku.

" Innalillahi Wainnalillahi Rojiun."

Baca perbualan

Cerpen-cerpen Berkaitan

Semua cerpen-cerpen Spiritual

cerpen-cerpen lain

Perbualan

Perbualan

Want to join the conversation? Use your Google Account


  • (Penulis)
    1) Assalamualaikum?

    Hanya sedikit kisah nyata Ze..
  • 2) iya, sudah kubaca. sangat menyentuh sekali.
    hm iyah, sakit emang menghadapi kehilangan orang yang kita sayang. jadi ingat pada almarhum pakcikku yang meninggal minggu lalu...

    semoga kamu tabah yah, Al-Fatihah...
  • 3) kangker payudara emangnya musuh wanita. al-fatihah.
  • 4) huuuhuhuhu, Zera dah kasih bocoran dari judulnya... :(
  • 5) Assalamualaikum Wr. Wb.

    Maaf sudah sangat telat komenku...
    "Innalillahi Wainnailaihi Raajiuun"

Cerpen-cerpen lain nukilan zera

Read all stories by zera
No stories.