Kenangan di secangkir kopi

  • 2
  • Hadi
  • 13 years ago
  • 2,302
  • FREE

 

“ Ekspresso double, Mbak !.”

Suara itu menyentakanku dari lamunan dan membawa mataku pada sosok perempuan bertubuh indah dalam balutan celana jins warna biru tua dan atasan model baby doll yang trendi. Rambut hitamnya yang di potong pendek seleher menambah kesan manis pada wajahnya yang oval. Aku terus memandanginya, tapi ketika dia beranjak untuk mengambil gula sachet yang tempatnya tak jauh dari tempat dudukku, aku cepat-cepat kembali menekuri gelas kopiku. Mengawasi bayang-bayangku yang berbias di air kopi. Kalau saja dia tidak menyebutkan “ Ekspresso double “ aku mungkin tidak akan memperhatikannya.

“ Aku suka sekali rasanya yang eksotik. Rasa pahit yang manis, rasa manis yang pahit bercampur jadi satu dengan begitu sempurna. Seperti hidup, bukan?. Setiap kali meminumnya, aku selalu merasa lebih tenang, karena aku selalu diingatkan bahwa kesempurnaan hidup hanya akan tercapai dengan keseimbangan antara keduanya. Jadi, nikmati saja setiap perubahan yang terjadi tanpa pernah berkeluh kesah.”

Babak pertama dari film masa lalu yang telah tersimpan rapi dalam rak sanubariku di mulai lagi. Dan setiap kali itu terjadi, aku akan tersenyum sendiri merasakan kegembiraan yang tak terkatakan. Rohku melayang, melompat-lompat senang seperti anak kecil yang baru saja di belikan coklat.

“ Kau sudah terlalu lama hidup dalam kenangan, Ji, bisa gila kau nanti. Lagi pula apa enaknya hidup dalam khayalan, kau tak bisa merasakan apa yang sebenarnya bisa kau rasakan. “

Tak hanya Bonar yang berkata begitu padaku, tapi juga banyak teman-teman yang lain. Tapi apa salahnya?, pikirku. Ketika kenyataan mengombang-ambingkan kita dalam badai hidup yang keras, kenangan dan khayal bisa menjadi pelabuhan buat kita untuk beristirahat, menunggu badai reda, dan memperbaiki kapal diri yang rusak. Ketika kenyataan terasa begitu pahit, kenangan dan khayal bisa menjadi gula untuk menawarnya.

“ Ya, lantas kita terjebak oleh indah dan manisnya pelabuhan dan gula itu, hingga enggan kita beranjak seperti tak ada dunia lain di luar sana. Kalau sudah begitu, selamanya kita hidup dalam mimpi. Bah, inilah yang membuat kita tidak pernah maju. “

Ya, aku tahu. Dan menurutku, tak ada orang yang benar-benar terjebak selamanya dalam mimpi, khayal dan kenang. Kalau pun dia belum beranjak, itu karena dia merasa badai belum juga reda dan kapal masih terlalu rusak untuk kembali berlayar. Kita adalah kapten untuk diri kita sendiri, bukan?.

Dari sudut mataku aku melihat perempuan itu menumpuk tiga sachet gula di pinggir piring kecil yang menjadi alas gelas kopinya, lantas berjalan pelan ke arahku. Jangan ... jangan ... jangan ... teriak batinku. Perempuan itu melewatiku dan seketika itu juga aku menarik napas panjang.

“ Maaf, Mbak !, meja ini sudah saya pesan untuk saya dan teman saya,

jadi ... “

“ Oh, maaf saya tidak tahu. “

Ya, Tuhan tidak ...

“ Hai !. “

Aku menengadah. Pandangan kami bertemu, dan seperti yang aku duga ada ribuan volt aliran listrik yang membuat tubuhku kaku tak bergerak.

“ Maaf, kursi ini kosong, kan?.”

“ Iya,” aku menjawab lirih. Suaraku tercekat di tenggorokan.

“ Kamu sedang menunggu seseorang?.”

Aku menggeleng. Aku takut suaraku tidak keluar.

“ Boleh aku duduk di sini?. Soalnya semua tempat sudah penuh, masa aku harus minum sambil berdiri. “

“ Silahkan saja.” Ah, syukurlah suaraku akhirnya bisa di ajak berkompromi, sekedar untuk menunjukan tata krama. Dia meletakan gelasnya di atas meja, aku berdiri dan menggeserkan kursi untuknya.

“ Terima kasih, kamu baik sekali. “ senyumnya mengembang, dan wajahnya menjadi secerah pagi. Aku kembali duduk dan menekuri gelas kopiku.

..............

“ Apa, sih yang kamu lihat di luar jendela itu ?.”

“ Taman.”

 “ Kenapa, kamu suka sekali dengan taman ?.”

“ Ya, karena indah; rerumputan hijau, bebungaan, pepohonan, kupu-kupu, kesejukan, begitulah,” jawabku sekenanya.

“ Tapi aku lebih suka melihat wajahmu. ”.

Aku tersipu. Pandai benar perempuan ini merayu.

“ Apakah keindahan selalu seperti itu?. Selalu terdapat pada tempat-tempat seperti ... gunung, laut, taman?.”

 “ Memang di mana lagi ?, “ tanyaku

Dia memainkan ujung jariku.

“ Apakah aliran air kali yang hitam, kemacetan yang panjang, pengamen jalanan yang bernyanyi sumbang, rumah-rumah kardus di bawah jembatan, pengemis yang mengiba, tukang becak yang kelelahan, anak-nak jalanan yang kumal bukan suatu keindahan?. “

“ Kau aneh!, “ sindirku sambil menatap dalam bola matanya yang jernih. Dan dengan perkataanku itu senyumnya semakin bertambah manja.

“ Buktinya banyak orang yang mengabadikan hal-hal itu dalam bentuk foto. Human Interest, begitu mereka menamainya. Kau juga suka melihatnya bukan, sayang ?. “

“ Itu, kan sudah bercampur dengan estetika fotografi, cinta.”

“ Apa bedanya dengan melihat yang sesungguhnya?, itu kan hanya masalah perspektif. Ah, kamu ini payah.” Dia mencibirku.

Aku tersipu lagi. Matanya yang indah menari-nari membelai wajahku yang bersemu merah. Ah, perempuan, betapa kalian tak membutuhkan matra-mantra dan sesaji untuk menyihir seseorang dan membuatnya tak berdaya.

“ Apa yang kamu lihat di taman itu ?.”

“ Kamu lihat saja sendiri.”

“ Tidak mau, ah, aku ingin kamu menceritakannya untukku.”

Aku menatapnya dalam-dalam. Apa yang harus aku ceritakan?, tidak ada apa-apa di taman itu. Tapi matanya yang manja itu ... oh, aku tak sanggup membuatnya meredup kecewa.

“ Ada seorang perempuan muda duduk di kursi taman ... ,” mulailah aku bercerita.” Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dari sini. Tapi kelihatannya dia sedang menunggu seseorang. Eh, dua orang pengamen datang, yang satu membawa gitar, yang satu lagi membawa gendang. Sepertinya mereka menyanyikan lagu dangdut, dan perempuan itu ... dia berdiri, dia berdiri lantas berjoget dengan asyiknya ...”

Tawanya meledak. Aku pandangi wajahnya dengan penuh ketidakmengertian. Apakah dia tahu aku sedang menggombal?. Atau mungkin karena posisi duduknya yang membelakangi jendela, sehingga dengan polosnya dia bisa mendengarkan ceritaku yang palsu itu?**. Apapun itu, begitulah adanya**, cinta memang penuh kemuskilan.

“ Lalu, bagaimana?. “

“ Apanya?.”

“ Perempuan itu?. “

“ O ... dia, dia terus saja menari, menari, menari, sampai ... “

 “ Maaf, Mbak ... !.” Tiba-tiba seorang pelayan telah berdiri di meja kami sambil membawa nampan berisi beberapa potong kue coklat. Itu kesukaannya juga. Dan laju khayalanku seketika tertahan oleh riuh rendah suara obrolan yang kembali masuk dalam telingaku.

“ ... ini kuenya.”

“ Terima kasih,” balasnya sambil tersenyum. Aku juga tersenyum ketika pelayan itu tersenyum padaku, lantas dia pun tersenyum padaku, aku pun tersenyum padanya. Jadilah kami saling melemparkan senyum.

 “ Kita duduk lagi di sana, ya?.” kali ini wajahmu yang lucu ketika merengek manja yang bergoyang-goyang di air kopiku.

“ Kenapa?.”

“ Aku ingin selalu mendengarkan ceritamu tentang apa saja yang berlalu di luar jendela itu,” katamu sambil mencubit lenganku.**

“ Siapa tahu, perempuan yang kemarin masih di sana, masih menari dengan dua orang pengamen yang menyanyikan lagu dangdut.”

Begitulah, kami selalu duduk di meja yang sama, dengan alasan yang itu-itu juga. Berhadapan. Aku menghadap jendela dan dia membelakanginya. Aku bercerita padanya tentang apa saja yang terjadi di luar jendela itu, di taman itu (meski tak satu pun yang benar), dan dia akan mendengarkan dengan penuh perhatian sambil terus menatapku manja.**

“ Aduh, sayang, kopimu jadi dingin, ya?. Aku pesankan lagi, ya?.”

 “Akan beginikah kita selamanya?. Duduk berhadapan di meja yang sama, bermain mata, menatap manja, dan bercerita?.”

Dia membelai lembut wajahku dengan jari-jari tangannya yang lentik, menghujaninya dengan senyuman, dan ketika dia menuntaskannya dengan sebuah ciuman di kening, airmatanya memercak di pekat kopiku.

 “ Aku rasa kopimu sudah dingin?.”

Sentuhan lembut di ujung jariku itu seperti mesin waktu mengirimku seketika kembali ke dunia dimana suara-suara berdengung seperti lebah.

“ Aku pesankan lagi, ya?, Ekspresso Double, kan?,” ujarnya. Belum sempat aku menolak, dia sudah melambai ke arah pelayan.

“ Aku yang traktir.”

Begitulah pada akhirnya aku bernostalgia sambil terus mengulang-ngulang cerita. Tentang aku. Tentangnya. Tentang posisi dudukku yang menghadap jendela. Tentang sikapnya yang manja ketika mendengarkan ceritaku. Tentang jendela itu. Tentang taman itu. Tentang meja itu**. Apa dia juga begitu dari balik waktu yang beku?.

“ Mbak!.”

“ Nina, namaku Nina.”

“ Apa, sih yang kamu lihat di balik jendela itu, Nin?.”

“ Taman.”

“ Apa yang kamu lihat di taman itu?.”

“ Kamu lihat saja sendiri. “

“  Tidak mau, ah, aku ingin kamu menceritakannya untukku, supaya obrolan kita lebih panjang.”

Dia tersenyum. Aku menatapnya manja sekali

 

* terinspirasi oleh puisi karya T. Arif Gunawan “ 100 tahun cinta “

** penggalan bait-bait puisi tersebut yang penulis dengan penambahan dan  perubahanseperlunya.

 

Baca perbualan

Cerpen-cerpen Berkaitan

Semua cerpen-cerpen Cinta

cerpen-cerpen lain

Perbualan

Perbualan

Want to join the conversation? Use your Google Account

  • 1) halah hadi, koq pakai puisinya si Tuah doang? ada yang lebih keren lho buat inspirasi... yeee... :p

    yuk, ceritanya ini bagus. apik sekali, pokoknya baguslah! :)
  • 2) Hmm hmm hmm... Aku agak kurang nyambung dengan alur ceritanya, mungkin karena aku kurang konsen kali ya... tapi menurutku cerita ini baik sekali, ada sesuatu yang tidak biasa. :) kembali sepakat dengan Zu, apik sekali.

Cerpen-cerpen lain nukilan Hadi

Read all stories by Hadi