Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Indonesia
Selamat Datang Pengunjung
Ayo, gabung sekarang
Log masuk jika sudah mendaftar
Penulisan > Cerita Pendek > Cinta
4.0
1 Penilai
I can feel love
Dihantar: 4/10/2009 | 14:55:12 PM | 1419 Bacaan
(+) Create your entry!
Cerpen sebelumnya:
sunset tanda cintaku untukmu
Cerpen selanjutnya:
kerajaan adisingga sani

“assalamu’alaikum”suara seseorang di balik pintu. Pikiranku bisa menebak suara ini. Tanganku membuka secelah pintu untuknya. Dia menyerahkan makan pagi untukku. Aku menerimanya dari secelah pintu kamarku.
“winnie. mama ingin bicara”.Serunya menengok ke kamarku. Secepatnya tanganku melambai,memberi isyarat untuk tidak menemuiku. Mama memahami keadaanku.”terserah kamu winnie.Tapi aku ingin kamu tetap ceria meski...”.BRUK!!!. suara pintu tertutup sangat kasar. Hal ini yang aku lakukan sebagai alasan tak mendengarkan usulannya.
“aku hanya ingin seperti dulu”gumamku dalam hati mengarah keluar jendela. Inilah penglihatan yang ku dapatkan. Hanya sebongkah taman kecil buatan mama yang menjadi pemisah jalan. Di depannya masih ada tikungan yang setiap pagi di lalui anak SMA. Penglihatanku hanya bisa mencapai itu. Untuk hal lainnya, kakiku tak berani melangkah lebih jauh lagi.
“hey.gua pulang dulu,ya”seru seseorang menjauh dari rumahku. Dia melihatku duduk memandang tikungan itu. Lelaki itu tersenyum padaku. Ia kembali ke pandangan temannya. Sedikit pun, aku tak membalas rasa senyumnya
“key!!!aku duluan,ya.kalau pulang jangan malam malam”.Seru rey pada key yang langsung pergi. Orang ini adalah rey. Dia memiliki senyum yang sangat tulus. Hampir mirip dengan senyum wanita. Yang satunya adalah adiknya, Key. Yang memiliki watak yang sangat terbalik dengan kakaknya. Dia orang yanag sangat kasar. Tapi, sejak kebutaan dulu. Aku senang bisa menjadi teman mereka. Semuanya menghilang saat mataku kembali melihat. Dan aku terkurung denga penglihatan ini, menjadi wanita yang mengurung dirinya, menjadikan mulutnya tak terpakai, penglihatan yang hanya bisa melihat di luar jendela. Aku mencari pemandangan lain dari samping kiri tikungan itu. Key terlihat sibuk dengan tas yang menggantung di punggungnya. Dia menyadari tatapan mataku. Dia hanya melihatku dengan dingin. Sama sepertiku, tak pernah menanggapi kehadiran mereka lagi. Mataku berpaling ke kamarku. Keadaan masih sama seperti dulu. Hanya saja, saat ini, aku masih menggunakan penglihatanku. Aku mendesah kesal pada barang yang membuat bekas di hatiku lagi. Tanganku merengkuh semangkok bubur yang disiapkan untukku. Mama terus melakukan seperti ini. Tapi hal yang membuatku benci adalah kebiasaan mama yang membuatku semakin takut untuk melangkah
“winnie ini mama”seru mama menggugah lamunaku. Ku sunggingkan senyum kaku saat membuka pintu ”kau sudah ingin melihat mama”
Tak ada jawaban dari bibirku.”mama tahu itu membuatmu depresi.Tapi jika seperti ini terus kamu...”. Aku menutup pintu lagi dengan keras. Aku bersandar di pintu untuk mendengarkan isakan tangis mama
“mama hanya ingin kamu tahu. Kalau semua itu bukan karena mama yang menyuruhnya!”teriak mama bersampingan dengan tangisan. Tetap seperti tadi, aku tetap tak mengatakan sedkit pun, menepuk bahu mama atau memanggilnya saja tak pernah ku lakukan. Mungkin saat penglihatan ini muncul. Semua yang terjadi dalam hidupku berubah. Apalagi kehilangannya.
“mah...jika aku bisa seperti dulu.Yang aku inginkan penglihatan ini hilang”gumamku dalam hati yang tak bisa di ucapkan melalui bibir. Tak kudengarkan isakan tangis mama lagi. Ia mungkin telah menyerah dengan sikapku. Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Semua lampu ku matikan. Ku sibakkan gorden yang tadi ku buka..Keadaan semakin gelap didalam selimut. Tapi anehnya, aku bisa bicara dengan mulutku. Dan tak merasa takut seperti sekarang.”sebenarnya aku ingin penglihatan ini.Aku masih ingin melihat dunia ini”aku menghela nafas.”Sayangnya aku masih merasa gelap saat penglihatan ini ada. Dan merasa semuanya hampa. Tak ada sedikit pun orang yang menemaniku. Semua itu hanya palsu ”Kata ku dalam selimut.Aku membuka selimut ini. Tubuhku langsung duduk bersilang saat melihat hal yang membuatku tak bisa menelan ludah.”TOLONG!!!”.Aku langsung beranjak dari tempat tidur. Entah mengapa aku semakin berani untuk menjatuhkan kakiku keluar pagar. Ku lihat kepalanya mengeluarkan darah segar. Aku tak bergidik ngeri. Kakiku terus tertumpuh untuk melihat darah segarnya keluar. Semua orang membantunya, mencegah darahnya tak keluar. Dia meronta kesakitan. Bau anyir masuk dalam bulu bulu hidungku. Mama melihatku berdiri tegak di sampingnya. Sebenarnya ini sih hanya sebagai pemacuh agar tingkahku tak di ketahui mama. Dia mencengkram tanganku sangat erat. Seakan sudah mengetahui ketakutanku melihat peristiwa ini. Dengan cepat, aku menyepakkan tangannya dengan kasar. Mama kembali mengarah ke wajah rey yang berlumuran darah.”jangan seperti ini.Rey.please bangun!!”teriakku di dalam hati. Mulutku ingin sekali memanggil namanya. Tapi semua ini terasa sulit, menelan ludah saja tak mampu ku lakukan.
Kerongkonganku tercekat oleh bau anyir ini. Perutku semakin mual. Rasanya ingin sekali memuntahkan bubur yang di lumat di pencernaanku. Tapi, aku terus menahannya. Gigiku menggigit bibir bawah, menekuk ke dalam mulut untuk menahan rasa mual ini. Keseimbanganku mulai hilang. Penglihatanku mulai buram. Sampai  kapan tumpuhanku akan bertahan di bawah bau anyir darah dan peristiwa yang menakutkan. seseorang mencegah tubuhku yang mulai lemas.”kalau kamu nggak mau melihat peristiwa ini lebih baik masuk ke dalam.Dan lupakan peristiwa seperti ini”bisiknya di telingaku.”cepat kembali kedalam”dia menepuk bahuku agar kau masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah. Ku sunggingkan senyum tipis padanya. Tentu saja, dia membalasnya dengan dingin. Itu kebiasaan key. Kadang dia baik, perhatian dan tentunya bisa menjadi dingin. Dia langsung berlari membantu kakaknya.”REY!”teriaknya membantu kakaknya.”biar saya saja membawanya ke rumah sakit”pintanya menggendong tubuhnya yang berlumur darah. Mama membukakan pintu mobil untuk key yang menggotong tubuh rey yang berlumuran darah. Aku terdiam terpaku melihatnya. Darah merah segar menerobos dari lubang kecil kepalanya. Kepalaku sangat pening. Berdiri dengan tegak pun tak bisa membantuku lagi. Tubuhku tertumpuh di sandaran kursi taman buatan mama.”Maaf.Mungkin karena penglihatan ini,aku tak bisa berbuat apapun untuk membantumu”gumamku dalam hati  yang bersandar di kursi.”andai saja dalam penglihatan.Indra perabaku masih tepakai berdampingan dengan kata kata yang kukeluarkan dari mulut.Pasti mungkin kau bisa membantumu.Sayangnya semua itu hilang.Dan penglihatan ini tak pernah ku pakai. Hanya sebagaian dari luar jendelaku”. Penglihatan ini menerjang dan tertumpuh penyesalan di hatiku. Mataku terpaku pada bekas darah yang menempel di jalan, membentuk warna merah kehitaman. Bau anyir ini masih membekas di hidungku. Meski kelihatannya terlalu jauh. Aku berlari menaiki tangga untuk menuju ke kamarku. Tanganku langsung menutup pintu dengan keras. Kakiku langsung berlari ketempat tidur. Tak ku rasakan peristiwa itu hadir di kepalaku lagi. Meski sebagian membuatku bergidik ngeri. Jendela yang tertutup, terlihat secelah angin menyerbu rambutku, menerpa wajahku yang bergemetar. Aku tercekat kaget, melihat mama yang berlari ke arahku. Aku menghindar darinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Dia bisa bicara dengan mudahnya padaku.”jangan pernah seperti ini lagi!!!mama sudah nggak tahan dengan sikapmu!!!”teriaknya menarik selimut dari tanganku berdampingan menangis. Tapi tetap saja, aku menahan selimut ini. Aku tak ingin melihat matanya, mendengarkan nasihat yang dia ucapkan. Aku menyepakkan tangannya dengan kasar. Kemarahanku mencuat di wajahku. Meski tak ada kata yang menandakan kemarahan di bibirku. Setidaknya, dia bisa mengerti perasaanku. Hentakan kakinya menuju keluar kamar. Sebelum dia keluar, matanya penuh dengan air mata. Maksudnya mungkin adalah agar aku bisa tersenyum. Hanya jawaban diam yang aku lakukan. Kaki mama keluar dari kamarku. Pintu pun terutup sangat pelan. Ada atau tidaknya penglihatan. Toh kehidupanku tak berubah seperti halnya buta bersama papa. Rasanya sama saja dengan penglihatan saat ini. Tetap saja menjadi gelap. Bedanya hanya satu, aku bisa melihat sebatas kamar dan luar jendela. Dan yang dulu adalah aku tak bisa melihat apapun. Hanya bisa merabah, bicara dan mendengar. Sekarang semuanya berubah. Hanya indra peraba yang ku gunakan. Semua indra nggak akan bisa ku lakukan lagi. Mataku menatap langsung keluar jendela. Biasanya rey dan key berjalan di  tikungan itu. Sayangnya, semua itu hilang. Rey yang penuh senyum itu. Rey yang selalu menghiburku.Tapi sekarang tubuh rey yang penuh senyum itu, tergeletak lemas di rumah sakit. Bibirku yang bisa ku gunakan, tak bisa mengutarakan kata kata untuk mengutarakan sesuatu agar dia sembuh. Aku tertunduk lemas mengahadap luar jendela.
Setiap hari, rey selalu mengajakku tersenyum. Dia pernah mengunjungi tubuhku yang lemas saat menyaksikan kematian papa. Dia menepuk pundakku yang terkulai lemas. Tapi aku mulai diam saat itu.
“winnie!!!”suara teriakan itu pernah terdengar sekali di telingaku. Ketika aku berjalan ke pintu dengan ragu.Aku terus memikirkan suara ini.”winnie!!!”teriaknya yang ingin mendobrak pintu. Tanganku kembali bergemetar tak berani membuka kenok pintu itu. Saat dia membuka kenok pintu...”key”guammku dalam hati. Tentu saja aku tak berani mengeluarkan kata kata ini. Aku tak berani melihat kemejanya yang penuh darah. Bau ayir ini dengan gampang menggoyak perutku hingga aku tak bisa menahan rasa mual di perutku.”maaf. Aku membuatmu takut”jawabnya dengan nafas terengah engah. Dia mencoba mengatur nafas.Mungkin, dia kesini dengan berlari. Keringatnya saja mengucur deras di keningnya.”ka..ka..mu lihat kecelakaan itu,kan??”tanyanya mengguncang tubuhku. Kedua tangannya terjatuh di bahuku. Dia memberikan tumpuhan tangannya di bahuku. Aku tesenyum tipis. Ku ingat peristiwa itu di memoro otakku. Tak mungkin secepat kilat aku melupakan peristiwa itu. Rey meninggal bukan karena kecelakaan tau tabrak lari. Dia dibunuh. Tapi bibirku, tak berani mengatakannya.”bisakah kau bicara walau hanya sejentik jari manismu. Aku tak sanggup lagi melihatmu terdiam seperti ini.Bisakah kau mengatakan sesuatu untuk membantuku?”tanyanya menggocang tubuhku. Jawaban yang ingin ku ucapkan adalah aku bisa tapi kalian terus memanfaatkanku. Aku tak bisa memanfaatkan penglihatan ini. Karena kalian terus memaksakau hingga orang sebaik papa harus berkorna untukku. Dan mengambil kertas dan pensil di sampingku.Setiap aku ingin bicara,hanya dneagn ini aku menyampaikannya.Lama sekali aku menulis kata kata.Ku berikan ke padanya.”baiklah!!!aku akan memberitahumu. Tapi ada syaratnya. Aku akan menjelaskannya hanya dengan tulisan seperti ini.Dan jangan memaksaku!!!”. Mintaku di kertas putih ini. Mereka berdua mengangguk. “rey bukan kecelakaan. dia di bunuh. Rey pernah menghinbdar tapi mobil itu langsung menabraknya.Dia terlempar ke samping!!!”.di kertas itu aku menulisnya.Dia mengeryitkan keningnya,mencari sesuatu untuk menjelaskjan kalimatku.”berapa nomer plat mobilnya?”tanyanya mengusap dagunya.Aku menulis lagi “kalau nggak salah W 9321 RL”.
“aku mau ke polisi”serunya dengan mengambil kertas di tanganku. Aku mencegah tangannya. Ternyata, dia sudah mengerti maksudku. Dia selalu saja mengerti tentang hatiku. Kadang sifatnya memang dingin. Tapi kadang, aku sangat nyaman ada di sisinya.”tolong jaga winnie,ya?”minta mama pada key. Dia mengangguk lalu menarik tanganku. Pertamanya, aku sempat ragu unutk menyentuh jalan luar.”kau takut”tanyanya membuka pintu rumah. Aku hanya mengangguk dengan ragu. Dia langsung membuka pintu itu selebar mungkin. Mataku yang terus terpejam, terasa begitu sulit untukku buka.Hari hari yang ku lalui dengan key terasa begitu menyenangkan.Apalagi bersama saudaranya.Sayangnya semua itu hanya sebuah masa lalu.Yang seharusnya tak di ingat.Dia menuntunku ke mobilnya, membukakan pintunya untukku.”aku nggak tahu kalau penglihatan ini malah menyakitimu.Tapi bagiku.Semua orang yang di takdirkan mempunyai penglihatan selalu besyukur. Anehnya kau kebalikannya”katanya dengan  menancapkan gas mobil. Aku hanya tersenyum kaku padanya lalu melihat ke depan. Tanganku merogoh daksboard untuk mengambil kertas dan pensil.”apa yang ingin kau tulis?”tanyanya membantuku mengambil kertas dan pensil menggunakan tangan kirinya.”sebenarnya, aku sangat bersalah dengan rey. Dia selalu tersenyum padaku.Tapi aku hanya terdiam di dalam kamar. Termasuk melihatnya jatuh penuh darah. Aku takut melihat kenangan itu.aku merasa dia knengalami semua itu kareana aku.Seandainya, dia tak menyunggingkan senyum itu, tak melihat ke dalam jenedela kamarku, tak melihat padaku, melambai untukku.Semua itu....”.Ada kata ragu yang sulit ku ucapkan di kertas ini. Key mencabut kertas itu dari genggamanku. Lalu menulisnya”seandainya saja, aku yang mengalami kecelakaan itu. Seandainya saja kebutaan atau kesembuahanmu tak mengakibatkan seperti ini. Kau selalu saja merasa dirimu bersalah.Tapi,aku yang sebaliknya mengatakan seperti itu. Aku merasa semua kejadian ini adalah ulah yang aku buat.”.Dia menutup bolpennya dengan mulutnya, menyerahkannya padaku dengan tersenyum tulus padaku. Dia mencengkram jemariku lalu mempermainkannya”aku ingin kau bicara.aku ingin kau selalu tersenyum”Katanya dengan menatap wajahku lalu berpaling lagi ke jalanan. Rintikan air mata mengembang di mataku. Tapi, tentu saja, aku menyembunyikan genangan ini. Tangannya yang hangat menepuk kepalaku..Aku menyadari belaian hangat ini.”jika memang penglihatan ini membuatmu murung, aku akan membuatmu tahu arti penglihatan ini”Katanya dengan memejamkan mataku dengan telapak tangan kirinya.
Di saat aku membuka mata.Bukan kantor kepolisian yang ku lihat.Tapi tumpukan bunga daun daun yang jatuh dari rantingnya. Seperti salju daun yang berguguran.hanya saja, disini terasa hangat. Aku menerima runtuhan daun ini.”kau tahu maksudku membawamu kesini?”tanyanya menghela nafas. Aku menggeleng dan mengambil daun kering dari tanah.”karena daun ini sama sepertimu”Dia menerawang ke daun daun yang gugur dari rantingnya lalu menghembuskan nafas dan menatapku sangat tajam.”kau kebih beruntung dari daun ini”dia mengambil daun daun yang jatuh di kepalaku, membersihkannya dengan lembut. Memang seperti ini belaian yang sangat ku rindukan.”kau yang sembuh karena mata papamu. Tapi saat kau tahu papamu nggak ada, kau jadi seperti ini.Win,dengarkan aku, kau harus memanfaatkan semua ini. Satu bulan sejak kau sembuh dari buta. Kau mulai parah. Kau nggak bicara, terus mengurung diri di kamar, nggak mau bertemu mama. Apakah kau tahu?.Itu sangat membuat kami khawatir”.Aku merasakan keseriusan katanya.Tapi tetap saja, aku terdiam, menunggu semua dedaunan hilang dari rantingnya. Percuma saja hilang dari rantingnya. Aku tetap akan diam.”baiklah!!.aku tahu kau tetap akan diam. Tapi, sekali ini. Biarkan aku mengajakmu melihat dunia baru ini.Yang mungkin...belum pernah kau lihat”Dia berjongkok, memandangku. Jawaban yang aku sampaikan adalah hanya gelengan kepala. Key berdiri membelakangiku. Key tampak terlihat marah. Aku menarik jaketnya untuk menghadap padaku. Mungkin hanya saat ini saja. Aku mengukir di tanah dengan kerikil yang melingkar di batang pohon ini.”Iya.Tapi hanya sekali.dan tak memaksaku”.Dia mengambil batu di sampingnya, menulis jawabannya di tanah.”Janji.Hanya sekali kok.Pasti kau have fun.Janji deh”.Aku mengulurkan tangan padanya, menyunggingkan senyum yang sangat tulus. Dia menggandengku menuju mobil. Dia membukakan pintunya padaku lagi, tersenyum lagi padaku.Aku membalasnya hanya dengan senyuman.”tenanglah. Nggak usah khawatir.Kalau misalnya kau nggak senang. Kau boleh menghukumku?”janjinya lalu menepuk kepalaku dengan lembut. Aku percaya dengan ucapannya. Tapi, aku merasa takut. Aku mencengkram erat bajuku, membulatkannya di jari manisku. Key melihat reaksiku. Dia menggengam tanganku dengan erat. kami berpandangan. Tanganku mengambil kertas di hadapanku lalu menulisnya”kau sudah berubah jadi lembut”kataku di kertas itu. Dia hanya mengangguk dan kembali menggengam jemariku, memainkannya dengan tangannya.”kenapa?”. Dia berhenti memainkan jemariku.”karna aku melakukan ini untuk orang yang aku sayang dan aku sudah membuatnya sedih”.Jawabnya dengan menyetir.
“siapa?siapa dia?”tanyaku ingin tahu di kertas itu. “ehmm.suatu saat kau akan tahu”jawabnya memandang padaku lalu kembali menyetir.”aku akan memberitahumu kalau kau mau mengucapkan namaku”.Aku menggeleng tegas padanya. Itu tak mungkin. Semuanya sudah terlanjur aku tutup. Aku menulis lagi.”sekarang.wanita itu,bagaimana?”.Aku menyerahkan padanya. Dia tersenyum saat membacanya.”dia cantik,baik. Tapi sekarang, dia pendiam. Hampir menyamai mu”jawabnya dengan melihat ke mataku.Aku nyengir sebentar, kembali memandang kedepan. Kalau, key menyukai seseorang. Bagaimana dengan ku?. Aku akan tetap merasa bersalah dengan penglihatan ini?.”aku berharap kau bahagia dengannya”.seruku dalam hati. Mobilnya terparkir di sudut lapangan kecil, menepi ketempat teduh. Aku turun dari mobil. Sebelum aku meninggalkan mobil, mataku ragu untuk melihat dunia ini. Aku merasakan tangannya yang hangat mencengkram pergelangan tangaku dengan lembut.”jangan takut. aku yakin kau suka pemandangan ini. Setelah ini kan malam?. Mungkin pemandanmgannya lebih bagus kalau malam”Serunya menuntunku berjalan ke loket karcis. Memang benar, setelah ini malam akan datang. Matahari saja sudah tak berani menyembul keluar, menggantikan dirinya menjadi langit gelap, tertumpuk bintang bintang. Apa saat ini, aku merasakan dunia sebenarnya?.Hatiku menciut saat melihat gemerlap malam di hadapanku. Seindah inikah buatan manusia?. Aku bergidik ngeri melihatnya. Tanganku bergemetar saat melihat warna malam yang menyerbu mataku. Kepalaku  pusing hingga tak bisa melihat keadaan.”kau nggak apa apa?”tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepala. Dan mencoba mengedipkan mata agar semuanya kembali normal.”lebih baik kita duduk dulu”Katanya dengan membantuku untuk duduk. Aku ingin sekali bicara. Tapi, entah mengapa kerongkonganku terasa tercekat sekali, menelan ludah saja tak sanggup. Aku berdehem keras. Dia melihat wajahku yang kebigungan.”kau butuh alat tulis. kau ingin meulis, kan?”tanyanya. Pikirannya memang 80 % benar.tapi sesungguhnya bukan itu kemauanku. Bibirku ingin sekali mengucapkan thanks. Tetap saja, aku terdiam. Dia menyerahkan kertas yang tadi dia ambil di sakunya. Tanganku mengambilnya dengan ragu. Aku mulai menulisnya.”aku nggak tahu kalau sebenarnya buatan manusia sehebat ini,key”.Kataku di kertas itu dengan penuh kebohongan. Tak mungkin aku mengatakan ingin bicara, menulis saja harus penuh dengan usaha banyak. Dia mengambil kertas ini dari tanganku. Setelah membaca, dia mengusap bahuku, menarikku ke dalam pelukannya. Anehnya,aku tak merasa takut, merasa kaget. Aku ingin sekali lebih lama di dekapannya, memeluk pinggangnya, menaruh kepalaku di dadanya, mengehembuskan nafas ketakutan di pelukannya.”aku tahu kok.Buatan manusia sangat indah.Tapi semua itu hanya sebagai perantara. Kekuatan sebenarnya membuat semua ini indah adalah tuhan. Dan penikmat semua ini adalah kita, winnie.Sama sepertimu. Mata papamu adalah perantara. Kekuatan sebenarnya adalah tuhan, yang memberimu kekuatan untuk melihat. Itu takdir, win. Tapi sayangnya kau tak pernah memanfaatkannya”. Air mataku merebah dimataku. Aku tak bisa menyembunyikannya lagi. Dia memelukku dalam pelukannya. Erat sangat erat. Hingga menghembuskan nafas saja susah. Tapi, aku sangat nyaman.”kau ingin bicara?”tanyanya merenggangkan pelukannya, merengkuh wajahku, menatap mataku dengan tajam. Jemarinya menelusuri lekuk wajahku.”aaa...”Mulutku yang tadi ingin memuntahkan semua penderitaan ini, membuat tubuhku bergemetar. Keadaan menjadi buram. Mataku kembali mencair. Dia mengecup air mata yang membasahi pipiku.”katakan sesuatu”dia menyeka air mataku, menekan jemariku dengan lembut.”aku...”.Semua dunia terasa tergoncang bersama tubuhku. Aku bisa mengatakan kata kata itu. Semua ini berakhir saat aku menginjakkan kakiku keluar dunia, dunia yang tak pernah aku lihat dengan penglihatan ini
Dia memelukku. dengan erat, mengecup keningku sangat lembut, menelusuri ke hidungku. Dia mengecup lagi keningku, membelai rambutku, menata rambutku yang tertera angin. “ada yang ingin kukatakan?”tanyanya melepaskan pelukannya. Dia tersenyum ragu. Aku mengangkat bahu pelan lalu menerawang menghadap taman taman yang indah.”sebenarnya,waktu dulu.Aku sangat membencimu”.Katanya dengan menghela nafas.”aku membencimu karena kau selalu bahagia dekat dengan rey.Sekarang saja,kau....”Dia menghela nafas lagi.Sekarang penuh dengan keraguan.”sekarang kau masih mencemaskannya.Aku sangat...”
“jealous??”tanyaku menebak.Aku tertawa keras saat dia mengangguk dengan malu malu.”kau ini aneh,ya?.siapa juga yang menyukai,rey?”tayaku menepuk punggungnya.Aku tertawa sngat lepas.Mungkin sekarang smeua ketakutanku untuk berbicara telah hilang.”makasih key”Jawabku setelah puas tertawa.Wajah key terlihat bingung.Aku menjelaskannya.”terimah kasih sudah bisa membuatku bicara.terus terang padaku,dan terakhir sudah membiarkan rasa bersalahku ke papah hilang”.jawabku tertudnuk, tak berani menghadap wajahnya.Key hanya tersenyum lalu membelai rambutku,memeluk tubuiku sangat erat.”berarti kau mau jadi pacarku?”tanyanya ememlukku.Aku mengangguk di pelukaknya.Dlaam pikiranku,aku terus bertanya.Mengapa papa yang menajdi perantara?.Mengapa dunia ini selalu egois padaku?.Aku sangat menyayangi appa.Selamanya.”ayo..kita ke rumah sakit.”seru key melepaskan pelukannya dan menggenggam tanganku.Aku mengangguk dengan semangat.”terus ke kantor polisinya, kapan?”tanyaku padanya, menghentikan langkahnya. Dia tersenyum genit padaku, mencoba mengedipkan matanya. Ternyata dia nggak  bisa, aku menahan tertawa.Dia mencubit pinggangku.”itu hanya kebohongan”jawabnya mencoba mengedipakan mata lagi.Aku langsung merah padam, memukul punggungnya lalu berlalu dari taman ini. Biarkan setiap kebisuan malam yang menyaksikan. Yang terpenting, aku tak berani lagi membisukan, membungkam setiap kata di mulutku. Karena papah ,karena semuanya. Aku bisa menjadi seperti ini. Aku tak akan membungkam mulutku. Selamanya. Aku sangat berharap ada dalam pelukan papa. Biarkan papa melihat semua ini. Yang ku inginkan adalah papa tetap ada di hatiku,penglihatan,kebutaan,mimpi,dan kenyataan hidupku.



Cerpen sebelumnya:
sunset tanda cintaku untukmu
Cerpen selanjutnya:
kerajaan adisingga sani
(+) Create your entry!
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!


Komen
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang boleh memberi komen. Sila Login

Perihal Penulis

reevadha
Hantar Mesej
reevadha

Karya
Cetak
Lihat karya ini dalam format cetak.
Emel
Hantar karya ini melalui emel.
Karya Curang
Karya ini melanggar Kod Etika Kapasitor?
Rekomen!! rekomen! 
Masukkan karya ini ke dalam senarai Rekomen!
Reviu karya ini rekomen! 
Luahkan pandangan anda pada karya ini.
Sebarkan
Sebarkan karya ini dengan menggunakan url di bawah:
bloglinesRedditStumbleUpontechnocratiYahoo
DeliciousdiggFacebookGoogleNewsvine

Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor.

hakcipta karya ini
Attribution 2.5 Malaysia
Keterangan
iklaneka




iklaneka

Kenali Kapasitor.net

iklaneka

menarik di kapasitor.net

iklaneka

panduan penulisan DBP

Local search