Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Melayu
Penulisan > Cerita Pendek > Cerpen Fantasi

Bawakan Aku Bunga

Cerpen sebelumnya:
Betelguese, Aldebaran dan Measat-70
Cerpen selanjutnya:
Lahir Dari Batin
 
Kelopak-kelopak mawar yang masih segar serta bunga-bunga kemboja yang menebarkan haruman indah langsung menelusup masuk kerongga hidung. Aku hanya tersenyum, dan cepat-cepat ingatanku melayang-layang kewaktu lalu. Waktu dimana hanya ada kisah-kisah hitam yang selalu terpalit dalam perjalanan langkahku. Tidak sedikit dari kisah itu yang membuat aku kesal dan menyesali akan takdir yang harus aku lalui dan jalani. Mungkin orang menilai aku gila dan tidak mempunyai rasa, namun itulah hakikatnya. Aku sedikitpun tidak menyesali kisah-kisah silamku yang selalu terlakar hitam. Kehadiranmu, ya kehadiranmu membuat aku benar-benar hidup dan bangkit sekali lagi dari waktu-waktu sesak yang kelam.

Disaat pisau pencukur sedikit lagi mengelar pergelangan tanganku sendiri, kamu cepat-cepat hadir entah dari mana memelukku dan langsung membuang pisau itu jauh-jauh. Aku masih ingat waktu itu, hujan renyai-renyai membasahi tubuhku. Aku berjalan sambil menangis terisak-isak, fikiranku kacau, jiwaku dihiris tipis-tipis, kewarasanku entah melayang kemana. Aku hanya ingin pergi jauh-jauh dari muka bumi ini. Menatap mentari terbit pagi esok juga aku tidak ingin. Hujan malam ini benar-benar membuat aku menggila. Fikiranku benar-benar dirasuk bisikan iblis yang menyuruh aku menyegerakan perbuatan yang paling dikeji. Aku hanya ingin bunuh diri!

Aku benci mengingat kejadian siang tadi, lelaki yang benar-benar aku cintai dan harapkan untuk membahagiakan sebahagian dari kehidupanku ternyata lelaki yang tidak berguna. Tidak lebih dari najis yang menjijikkan! Berpura-pura simpati akan nasibku, menaburkan cinta dan sayang, memberi kebahagiaan ternyata palsu dan dusta! Ah.... aku jijik melihat dia yang enak bermesraan dengan perempuan itu. Hancur benar sebahagian jiwaku, bahkan seluruhnya benar-benar berkecai. Saat dia menyadari kehadiranku dimuka pintu kamarnya, dia hanya tersenyum sinis dan berkata "Kamu boleh pergi kalau kamu mau ". Arghhh..... aku benar-benar kecewa. Akal fikiranku benar-benar dilutut waktu itu, aku ingin melemparkan apa saja tepat kemukanya. Aku segera mencapai pasu yang ada di sebalik pintu lalu melemparkan kearahnya. Dia sempat menepis lalu bangkit dan menampar wajahku dan menendangku. Aku dibuat tidak lebih seperti seekor haiwan jijik yang merempat.

Aku keluar dari tempat najis itu, sambil berlari dalam hujan dan menangis tidak ubah seperti orang gila. Aku segera masuk ke sebuah kedai dan membeli pisau cukur. Aku hanya mau bunuh diri! Hanya itu yang bermain dikepalaku. Dalam keadaan yang kebasahan, aku masuk ke sebuah restoran dan langsung menuju ketandasnya. Orang-orang melihat aku kehairanan. Lama aku menangis sendirian didalam tandas, menangis dan terus menangis. Meratapi semua kisah hidupku. Sedari kecil aku hidup tanpa ibu. Ayahku bernikah lain dan ibu tiriku selalu menderaku. Beberapa tahun kemudian ayah kandungku meninggal dunia dan ibu tiriku bernikah lagi. Aku benci tinggal dirumah itu. Aku benci dengan suami baru ibu tiriku yang selalu mencoba untuk memperkosaku. Aku benci dengan ibu tiriku yang mencoba untuk menjualku sebagai pelacur. Hidup benar-benar kejam. Apakah kerana aku seorang perempuan aku bisa dibuat seperti sampah. Akhirnya dalam desakan-desakan yang seperti ini datang dia, lelaki najis yang kufikirkan malaikat penolongku ternyata sama seperti mereka-mereka yang pernah hadir dalam hidupku. Aku hilang motivasi untuk hidup, untuk apa lagi aku hidup? Akal fikiranku benar-benar dilutut, aku langsung meletakkan pisau cukur itu kepergelangan tanganku dan coba mengelarnya. Dan saat itu hadir dirimu..........

Peristiwa itu selalu segar dalam ingatanku, dan gara-gara peristiwa itu aku harus menikah denganmu. Entah dari mana sesaat kamu memelukku, datang sekumpulan orang-orang yang tidak kukenali langsung membawa kita kesebuah tempat. Disitu kita dikatakan bersalah kerana berkhalwat. Aku coba menjelaskan segala-galanya dan kamu hanya diam waktu itu. Aku tidak bisa mengagak apa yang ada difikiranmu, aku sedikitpun tidak mengenalimu. Namamu, usiamu, latarbelakangmu dan siapa kamu sedikitpun tidak aku tahu. Tapi inilah hikmah... dan setiap kejadian selalu saja ada hikmahnya. Kita akhirnya menikah, segala-galanya terasa begitu pantas. Aku tidak mendengar lafaz akad nikah kau ucapkan semuanya terlalu cepat, aku menjadi isterimu yang sah dan kamu adalah suamiku yang sah. Saat itu aku benar-benar telah terjatuh dalam sebuah permainan kehidupan, selepas satu kejadian datang lagi satu kejadian yang benar-benar membuat aku sesak, dan aku harus menikah dengan seorang lelaki tidak aku kenali yang mencoba untuk menyelamatkan aku dari bunuh diri! Lelaki itulah kamu......suamiku, yang benar-benar membuat aku bangkit dari masa lalu yang kelam dan membuat hidup ini menjadi terlalu indah.

’Cinta bisa tumbuh kerana telah terbiasa’, aku akui kalimat ini sememangnya adalah kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran tentang rasa cintaku yang hadir untuk suamiku, semakin hari aku bersamanya, aku mengenalinya, tingkah-lakunya dan semua sifat-sifatnya benar-benar membuat aku jatuh cinta padanya. Dia mengajarkan aku banyak perkara, aku merasa seperti seorang bayi yang baru saja dilahirkan didunia ini, aku menjadi lupa pada kisah-kisah dan masa laluku yang hitam kelam. Dia benar-benar membuat aku bangkit menjadi seseorang di muka bumi ini. Sesungguhnya aku benar-benar berterima kasih dan bersyukur kerana tuhan telah menemukan aku dengan seseorang yang sepertinya.

Aku selalu terbayang akan wajah suamiku yang selalu bercahaya, saat menatap wajahnya akan selalu ada rasa ketenangan yang mengalir laju keseluruh ruang paru-paru. Dia bisa mencintai aku dan menerima aku apa adanya, dia benar-benar tulus mencintaiku. Tuhan, dia begitu sempurna dimata dan hatiku. Dahinya yang luas dan bersih benar-benar membuat aku selalu rindu padanya. Wajahnya selalu terlihat basah dan bibirnya selalu merekah kemerahan. Tuhan, dia benar-benar sempurna dimata dan hatiku. Kadang-kadang aku merasakan seperti sedang berada dalam alam mimpi, mimpi yang begitu indahnya, sesungguhnya aku tidak berhak untuk merasai keindahan seperti ini. Sejak kecil aku dilahirkan sebagai seorang islam, namun aku tidak pernah tahu apa arti islam, apa tugasku, apa tanggungjawabku sebagai seorang islam, aku benar-benar jahil dalam semua ini. Seumur-umur hidupku, aku tidak pernah tahu bagaimana berwudhuk, bagaimana menunaikan solat. Ya, aku sama sekali tidak pernah didedahkan dengan ilmu agama sedari kecil. Aku benar-benar kelam dan kosong, masa laluku begitu jahil dan gelap.

Tuhan menghantarkan dirimu kepadaku, darimu aku tahu apa itu islam, apa itu muslim dan apa tanggungjawabku, aku bersyukur kerana telah dikeluarkan dari kegelapan ini. Maha suci Allah yang selalu melimpahkan rasa kasihnya pada pelusuk alam ini, syukur atas semua karuniaMu, Allah.

’Duhai isteriku’. ’Iya’, jawabku. ’Isteriku’. ’Iya’, jawabku untuk kedua kalinya. ’Isteriku’. ’Iya suamiku’, jawabku untuk ketiga kalinya, dan dia pasti akan tersenyum lebar, dan aku akan ikut tersenyum bersamanya. Aku tidak tahu kenapa dia selalu akan memanggilku dengan perkataan ’isteriku’ sebanyak tiga kali, saat kali ketiganya dia pasti akan tersenyum dan mengucup dahiku. Sungguh indah dan dalam perasaan yang kualami. Ya Allah, berikanlah setinggi-tinggi nikmat dan karunia buat suamiku sepertimana yang telah kau karuniakan buat para sahabat dan para ahli ulama, dan tentera jihad yang berada dijalanMU, kasihilah dia dan lindungi dia dari azab seksa kubur dan azab seksa api neraka, ampuni segala dosa-dosanya dan permudahkanlah segala urusannya didunia dan diakhirat.

3 tahun menjalani hidup bersamanya benar-benar tempoh yang penuh arti bagiku, aku mengagumi kebijaksanaannya dalam urusan kerjanya, dia benar-benar seorang suami yang hebat dan bertanggungjawab. Tidak mungkin ada lagi makhluk yang bisa menggantikan tempatnya dalam hatiku.
Dia begitu istimewa dan merupakan anugerah yang begitu indah yang hadir dalam hidupku.

Aku masih ingat saat pertama kali kita diijabkabulkan, ibu mertuaku benar-benar benci melihatku, suamiku terus berusaha untuk meyakinkan ibunya bahawa ini semua adalah takdir dan memang antara aku dan suamiku telah terikat benang-benang jodoh. Pernah aku dianggap seperti wanita kotor yang cuba merasuki hidup suamiku oleh ibunya, namun akhirnya semua itu hanya tinggal sebuah cerita masa lalu, dan kini setelah 3 tahun berlalu, ibunya menjadi sebahagian dari keindahan yang hadir dalam hidupku, dari ibunya aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak pernah aku dapatkan. Segala-galanya berlalu begitu pantas.

Hari ini, selepas 3 tahun usia pernikahan kita, aku melihat ibumu dan adik-adikmu menangis terisak-isak di dalam kereta disatu sudut jalan. Teman-teman yang lain dan sanak-saudara sudah hampir sejam yang lalu pergi meninggalkan tempat ini. Aku masih tidak bisa berganjak dari sini, sambil menahan sebak dan tangis yang cukup dalam, aku mengusap ukiran nama indahmu di permukaan marmar putih bertinta emas dihadapanku, Muhammad Darwis.... namamu akan selalu melekat dijiwa selama tubuh ini masih bernyawa. Semuanya terlalu singkat, namun 3 tahun ini akan selalu menjadi kekuatan dalam hidupku sampai waktu berakhir. Semoga mawar merah ini akan selalu mewangikan tempat persemadianmu sampai aku kembali lagi disini bersama untaian doa-doaku buatmu yang takkan pernah padam berserta mawar merah yang selalu kamu berikan padaku dulu, kini aku akan melakukan hal itu padamu.... mawar merah bersama doa akan selalu ada buatmu suamiku.

Kakiku melangkah berat meninggalkan tanah merah yang masih basah mewangi, tanganku mengusap-usap perlahan perutku yang kian membesar. Suamiku, saat buah cinta kita lahir kedunia ini nanti, akan ku ajarku padanya semua yang pernah kau ajarkan padaku selama ini. Cinta dan keikhlasanmu akan selalu terbawa dalam seumur hidupku. Air mataku mengalir lagi.......
Oh malam, selamatkan aku
dari rasa sepiku
yang selalu datang
di setiap tidurku

Oh waktu, berikan aku
apa yang kurasakan
yang selalu kurindukan
arti hadirnya dirimu

Bawakan aku bunga
tak seperti mereka
berikan ku cinta
yang selalu berbunga

Bawakan aku bunga
tanda kasih setia
berikan ku cinta
untuk selamanya .....
 
*Nukilan Jiwa, sekadar untuk hiburan semata-mata, tidak ada kena mengena dengan mana-mana kisah nyata.*
Cerpen sebelumnya:
Betelguese, Aldebaran dan Measat-70
Cerpen selanjutnya:
Lahir Dari Batin

Share!Email

HTML:
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!
Nilaikan karya ini
Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor. [Login]
3.3
3 Penilai

Info penulis
kemarin aku mengenalmu...hari ini tubuhku terbujur karena merindumu..apakah aku terbuai oleh sebuah sukma yang teretas dalam hati?atau hanya angan yang terpisah oleh sebuah samudera??aku hanya merasa indah sekarang....aku hanya merasa cinta sekarang....karena itu biarkan aku tetap terbuaiterbuai dalam sebuah cinta yang tersimpuh berbalut khayal...
GalihRatna | Jadikan GalihRatna rakan anda | Hantar Mesej kepada GalihRatna

Info Karya
print CETAK
hakcipta karya ini
Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan

email EMEL
karya curang LAPORKAN
rekomen! REKOMEN!!
reviu! REVIU

lain-lain karya GalihRatna
Lahir Dari Batin | 3108 bacaan
Lihat semua

komen dari Facebook

11 Komen dalam karya Bawakan Aku Bunga
Hantar komen
Sila login ke Kapasitor atau gunakan akaun Facebook anda


Ikut kapasitor



Cerpen-cerpen berkaitan

Dari arkib cerpen Kapasitor.net


Arkib
100 Cerpen Terbaik