Kapasitor Karya Kreatif Bahasa Indonesia
Selamat Datang Pengunjung
Ayo, gabung sekarang
Log masuk jika sudah mendaftar
Penulisan > Cerita Pendek > Cinta
Penilai
Tentang Selena dan Rengga - 2
Dihantar: 22/06/2009 | 21:46:09 PM | 1356 Bacaan
(+) Create your entry!
Cerpen sebelumnya:
Tentang Selena dan Rengga
Cerpen selanjutnya:
cintaku di mulai dari panggilan

Gadis itu tidak pernah bisa membuat mataku lepas dari sosoknya.

Dia memiliki mata yang bulat berwarna hitam. Rambutnya panjang, lembut menyentuh kulitnya yang berwarna kuning langsat. Tubuhnya ringkih, selalu terbalut oleh selubung tipis bernama penolakan. Sedikit yang bisa menembus selubung itu dan harus kuakui keberhasilanku untuk berdiri di sampingnya saat ini merupakan sebuah kondisi istimewa.

Padahal, Selena hanya seorang gadis biasa.

Dia tidak cantik, atau bahkan memiliki sejumlah uang seperti perempuan-perempuan lain yang kukenal. Sebaliknya, dia hanya memiliki sejumlah ketakutan tersirat dalam mata hitamnya. Dan aku tahu ini kedengarannya cukup sinting, tapi ketakutannya itu membuatku rela mengabaikan sejumlah besar kesenanganku demi menemaninya menangis di kelas kosong lima tahun sebelumnya.

Sampai saat ini, hal itu tidak pernah berubah. Teman-temanku bilang hal itu hanya pikiran naif-ku semata. Bahkan mereka sempat melontarkan dugaan bahwa aku memiliki motif lain dibalik tindakanku terhadap Selena. Mereka bilang aku mencintai gadis itu. Aku hanya tertawa mendengar ucapan mereka. Tidak ada yang namanya cinta di waktu-waktuku sekarang. Aku masih muda dan terkait dengan kewajibanku sebagai pelajar. Bukankah itu sudah jelas?

Ini jelas bukan cinta, kataku pada diri sendiri. Ini hanya sebuah perasaan simpati, perasaan ingin melindungi.

“Hati-hati,” kataku saat Selena berniat menaiki undakan tangga, segera kuulurkan tanganku untuk membantunya tetap berdiri seimbang. Lututnya yang memar terlihat gemetar.

“Makasih,” Selena tersenyum canggung.

Aku menghela napas. “Harusnya kamu lebih hati-hati lagi, Len.”

“Ng-nggak apa-apa kok, Ga. Sebentar juga sembuh.”

“Mau kumintain es batu buat kompres?” tawarku cemas.

Selena menggelengkan kepalanya. “Gak usah, Ga.”

Bagian dari penolakannya yang biasa, batinku kalah. Aku sudah banyak melewati bagian-bagian dari penolakan Selena terhadap bantuanku, tapi tetap hal itu membuatku merasa sedikit kecewa. Dalam ingatanku, gadis ini nyaris selalu murung. Dia tidak pandai bergaul dan menutup dirinya sendiri terhadap orang lain. Dan nyatanya, kebanyakan orang tidak mau ambil peduli terhadap dia. Termasuk kedua orangtuanya.

Selena selalu melakukan segalanya sendirian. Berpikir, berjalan menuju ruang laboratorium atau bahkan menangis, banyak hal yang harusnya bisa dia bagi bersama sahabatnya. Dia, sepanjang sepenglihatanku, seolah-olah berusaha untuk tidak melibatkan orang lain dalam kesehariannya yang lebih jauh.

“Rengga! Rengga!” teriak seorang sahabatku dari ujung koridor, berlarian memanggil namaku diiringi beberapa derap langkah kaki rekan-rekannya yang lain. “Rengggaaaaaaaaaa!!!!”

“Ah, gila lu, Bay! Gak usah sampe teriak gitu kali!” desis Victor, seorang sahabatku yang lain ketika Bayu, orang yang tadi memanggil namaku, memelukku dengan sangat kencang.

Peter dan Rony tertawa keras di belakang keduanya, berjalan pelan menghampiri kami.

“Hai, Lena,” sapa Bayu senang, tangannya masih bergelayutan di leherku, yang kemudian disahuti oleh Selena dengan anggukan kecil.

“Apaan sih lu, Bay?” tukasku risih.

Mereka berempat kontan saling bertukar tatap, sepintas cengiran yang nyaris senada muncul di raut wajah mereka berempat.

“Apa?”

“Kita-kita udah denger kok, Ga soal gosipnya,” kekeh Rony membetulkan kacamatanya. “Dari orangnya sendiri bahkan.”

“Gosip apaan?”

“Pura-pura gak tau dia,” tawa Peter.

“Udah deh, jujur aja sama kita-kita,” tutur Victor cengengesan. “Lu kapan jadian sama si Clara?”

Aku mengerjapkan mataku. Sekelebatan sosok perempuan berponi rata, chubby dan manis hadir dalam bayanganku. Heran, aku bahkan tidak pernah berbicara banyak pada perempuan itu. “Ngaco lu pada,” ujarku pada akhirnya. “Kapan gue jadian sama Clara?”

“Lho? Emang gak jadian?”

Aku menggelengkan kepala. “Ya gak lah.”

“Yaaahhh,” desah Bayu kecewa, melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Victor. “Kita gak jadi makan-makan dong.”

“Makan doang yang lu pikirin.” Victor menyentil ujung kuping Bayu diikuti gelak tawa Peter dan Rony. Mereka tenggelam dalam kesenangan mereka menggoda Bayu.

“Rengga,” panggil Selena pelan. “Aku ke kelas duluan, ya.”

“Kenapa? Bareng-bareng aja, Len," tuturku.

Selena menggelengkan kepalanya. “Makasih ya yang tadi,” ujarnya tersenyum kembali sebelum akhirnya dengan tertatih-tatih melangkahkan kaki, berjalan menuju kelas sendirian.

Aku menghela napas. Pada akhirnya aku hanya bisa memandangi punggungnya dari tempat yang sama. Gadis itu memang berbeda. Bahkan setelah dua belas tahun mengenalnya, aku tidak pernah bisa paham mengapa bagiku dia begitu berbeda. Dan melihatnya berjalan tertatih-tatih sendirian, memegangi tembok menyusuri koridor menuju kelas membuatku entah mengapa merasa tidak berguna.

“Kok Cuma diliatin doang? Samperin, dong,” ujar Victor menggoda. Rupanya keempat sahabatku ikut pula memandangi kepergian Selena.

“Dia-nya gak mau,” gumamku. “Gak bisa maksa juga.”

“Kenapa tuh jalannya pincang?” tanya Peter.

Aku mengangkat bahu. “Jatoh kayaknya,” dalihku berdusta, jelas aku tahu mengapa lututnya memar sampai sebegitu parahnya. Pasti ada hubungannya dengan keadaan rumah Selena.

Baik Rony maupun Bayu menggelengkan kepalanya pelan.

“Ya ampun, Rengga,” kata Rony. “Lu beneran cinta mati ya sama Selena?”

“Kenapa gak lu kejer aja sih dia?”

Aku tertawa mendengar pertanyaan itu lagi. Pertanyaan yang sama, pertanyaan yang sejujurnya membuatku jenuh menjawabnya. “Udah ah. Ngaco lu pada.”

Kutinggalkan keempatnya saling berdiskusi sementara aku menyusul langkah Selena menuju kelas. Aku tahu apa yang mereka bicarakan. Pasti itu mengenai Selena dan aku juga asumsi-asumsi liar mereka yang lain. Barangkali kemungkinan-kemungkinan yang mengatakan bahwa aku terlalu pengecut untuk menyatakan cintaku pada Selena. Tapi aku tidak peduli. Bagiku semua itu hanya omong kosong.

Itu sudah jelas, batinku. Rasa itu tidak akan pernah ada diantara kami.

Ini bukan cinta.



Cerpen sebelumnya:
Tentang Selena dan Rengga
Cerpen selanjutnya:
cintaku di mulai dari panggilan
(+) Create your entry!
Rekomen!!rekomen!
Reviu rekomen!


Komen
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang boleh memberi komen. Sila Login

Perihal Penulis

Lumia
Hantar Mesej
Lumia

Karya
Cetak
Lihat karya ini dalam format cetak.
Emel
Hantar karya ini melalui emel.
Karya Curang
Karya ini melanggar Kod Etika Kapasitor?
Rekomen!! rekomen! 
Masukkan karya ini ke dalam senarai Rekomen!
Reviu karya ini rekomen! 
Luahkan pandangan anda pada karya ini.
Sebarkan
Sebarkan karya ini dengan menggunakan url di bawah:
bloglinesRedditStumbleUpontechnocratiYahoo
DeliciousdiggFacebookGoogleNewsvine

Nilaikan karya ini
Hanya pengguna berdaftar sahaja yang dibenarkan menilai karya-karya di Kapasitor.

hakcipta karya ini
Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 2.5 Malaysia
Keterangan
iklaneka




iklaneka

Kenali Kapasitor.net

iklaneka

menarik di kapasitor.net

iklaneka

panduan penulisan DBP

Local search