Nona Merana

  • 2
  • Lumia
  • 12 years ago
  • 2,563
  • FREE

 


Kami memanggilnya dengan sebutan Nona Merana.

Beberapa tahun lebih tua daripada pohon elm di perempatan jalan dekat rumah bangsawan keturunan Naridia itu dan memakai jubah merah menyala, Nona Merana begitu mudah di kenali. Wajahnya pucat berpendar di antara kegelapan total hutan Bevel yang gelap. Matanya hitam seperti manik-manik dan berkilat-kilat dibalik kerudung jubahnya.

Bagi kami, Nona Merana sama seperti teman-teman Si Iblis Sumur penghuni malam.

Dia muncul tiba-tiba di perbatasan hutan Bevel dan desa saat malam bulan purnama paling terang tiba. Seolah-olah dia itu udara, mengurai dan hilang; memadat dan berbentuk. Terkadang dia memang terlihat berdiri bersama beberapa kawan lama Si Iblis Sumur seperti Si Pencekik Tidur, Si Pembawa Lentera yang menyesatkan siapapun di hutan juga Si Kepala Melayang.

Mungkin karena alasan itu, orangtua kami melarang kami untuk dekat-dekat dengan hutan Bevel saat malam. Kata mereka malam dan kegelapan membuat hutan Bevel terkutuk, penuh makhluk-makhluk halus seperti Nona Merana.

Nona Merana tidak pernah berbicara sepatah katapun. Dan kami sama sekali tidak bersusah payah untuk mengajaknya berbicara. Tidak ada seorangpun yang berani, soalnya. Dia hanya berdiri di perbatasan desa dan hutan Bevel, mematung seperti menunggu sesuatu. Entah apa. Sampai akhirnya Meredic Boldevin datang.

Meredic Boldevin, kekasih Bridget Montmegrey yang bekerja sebagai pelayan di bar Tongkat Sapu, baru pertama kali berkunjung ke desa saat dia melihat Nona Merana dari balik jendela kereta kuda-nya. Dia datang malam-malam ketika bulan terang di atas hutan Bevel muncul.

Kepada kami, dia menceritakan pengalamannya itu. Dia berkata mengenai begitu mistisnya pandangan Nona Merana. Dia bercerita mengenai gairahnya begitu mendengar desir jubah merah menyala Nona Merana. Dia menganggumi Nona Merana.

Kami pikir, dia gila.

"Tunggu saja sampai Brigdet tahu kau memuji-muji makhluk halus itu," kata Remus dari peternakan, suatu malam di pinggiran desa.

"Makhluk halus katamu?" Meredic Boldevin mengerjapkan matanya, terperangah. "Benarkah Nona Merana itu makhluk halus?"

"Apa Brigdet tidak memberitahukanmu?"

Meredic Boldevin menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah mendengar."

"Nah, kau sekarang sudah mendengarnya, Boldevin!" seru Gullenir, salah seorang dari tukang kayu yang bekerja untuk Boromis Kaya, menepuk-nepuk pundak Meredic dengan keras sampai pemuda itu nyaris terjungkal dari tenggerannya di pagar peternakan ("Hati-hati jangan sampai cat pagarnya terkelupas!"). "Lebih baik bagimu untuk tidak mengambil pusing soal substansi Nona Merana. Dia bukan kaum kita!"

Tapi bukannya menyurutkan niatnya, Meredic Boldevin malah semakin penasaran dengan Nona Merana. Dia mulai bertanya yang aneh-aneh seperti Siapa itu Nona Merana sebenarnya? Mengapa dia dipanggil Nona Merana? Dari mana asal Nona Merana? Apa yang ditunggunya? Ada tidak orang dari desa yang sudah bercakap-cakap dengan dia?

Seluruh pertanyaan-pertanyaan yang membuat kami gila dan muak.

Bahkan kekasihnya sendiri dibombardir oleh pertanyaan yang sama. Bridget yang malang! Dia datang pada kami dengan tersedu-sedu, melaporkan bahwa kekasihnya sudah gila dan sudah tak ingin lagi menjadi kekasihnya.

Berita baik bagi kami, sekaligus berita buruk. Baik karena sekali lagi Bridget Montmegrey akan kembali menjadi gadis cantik kami yang dulu. Tanpa pasangan untuk dicemburui dan dihina dengan mendesis-desis. Tanpa pasangan yang menjadikannya sendiri, seperti bunga terindah tak terjamah.

Dan berita buruk karena Meredic Boldevin, anak saudagar kaya di kota Dallas; yang tampan tak bercacat dengan rambut hitam kelam, berwajah tirus pucat dan penuh sopan santun, memutuskan untuk pergi ke pinggir hutan Bevel di minggu purnama terakhir.

"Tak seharusnya kau menangisi Meredic, Bridget sayangku," kata Remus mendesah simpatik, membelai-belai punggung tangan gadis jelita bergaun satin ungu yang tengah menangis terisak tak terkendali. "Dia gila!"

Isak tangis Bridget semakin keras. Bahkan terlalu keras, diiringi bunyi sedot menjijikan ingusnya. Membuat kami saling berpandangan satu sama lain. Setengah merasa jijik dan setengah merasa simpatik.

"Ba-ba-bagaimana a-a-aku bi-bi-bisa tidak menangisi dia? Kami akan menikah musim semi tahun depan.... dan... dan... Meredic tidak lagi mencintaiku! Bagaimana aku bisa tidak menangis?" lolongnya pilu, penuh airmata.

Bodohnya Meredic Boldevin! Pikir kami saat itu, menatap keluar jendela bar Tongkat Sapu yang menghadap tepat ke pinggir hutan Bevel tempat Nona Merana biasa menunggu. Lalu sekelebat bayangan hitam lewat dengan cepat. Siapa itu, kami tidak terlalu peduli. Rasa amarah atas Meredic Boldevin membuat kami semua mengabaikannya.

Dan kalau harus dibilang, saat itu kamilah yang bodoh karena tidak sempat mencegah sosok bayangan hitam tadi. Itu Meredic Boldevin dan itulah kali terakhir kami melihatnya.

***

Kami memanggilnya dengan sebutan Nona Merana.

Beberapa tahun lebih tua daripada pohon elm di perempatan jalan dekat rumah bangsawan keturunan Naridia itu dan memakai jubah merah menyala, Nona Merana begitu mudah di kenali. Wajahnya pucat berpendar di antara kegelapan total hutan Bevel yang gelap. Matanya hitam seperti manik-manik dan berkilat-kilat dibalik kerudung jubahnya.

Sekarang, di setiap penantiannya menatap kosong desa kami si Jubah Hitam setia menemani Nona Merana. Terkadang mereka memanggil-manggil kami dengan lirih. Terkadang mereka tertawa-tawa geli. Terkadang mereka memperdengarkan jeritan mengerikan seorang lelaki. Meredic Boldevin.

Baca perbualan

Cerpen-cerpen Berkaitan

Semua cerpen-cerpen Eksperimen

cerpen-cerpen lain

Perbualan

Perbualan

Want to join the conversation? Use your Google Account

  • 1) oke aku seperti membaca epik-nya Cantik Itu Luka karya Eka nih. haha

    wow kamu penulis yang punya imaginatif tinggi. pintar memanipulasikan beberapa watak di sini yang kamu relatifkan pada latar cerita itu sendiri. ada humor ada sindiran. dan aku jadi simpatik sama watak Meredic Boldevin itu. haha

    terus berkarya oke.

  • (Penulis)
    2)
    hehe, humornya bukan berarti saya sengaja, sebenarnya.

    terima kasih sudah membaca

Cerpen-cerpen lain nukilan Lumia

Read all stories by Lumia